Minggu, 21 Juni 2015







Allah SWT memberi jatah umur kepada kita tidak lama. Beda dengan umat terdahulu mencapai ratusan tahun. Sekarang, umur manusia dalam kisaran di bawah seratus tahun. Nabi Saw menegaskan, “Umur umatku ada dalam kisaran antara 60-70 tahun.”  Jadi cukup pendek dibanding umat terdahulu.

Maka, Allah mengingatkan bahwa manusia itu merugi hidupnya.  Kecuali mereka yang beriman, beramal sholeh, saling mengingatkan tentang kebenaran dan kesabaran (al Asyr 1-3). Intinya, mereka yang tidak rugi itu yang beriman dan yang mampu mengisi lintas waktu yang terbatas itu dengan kebaikan.

Ada kalimat klise yang begitu populer. Yaitu, masa lalu adalah “pengalaman”, maka perlu dijadikan pelajaran. Apa yang kita lakukan—baik atau buruk—merupakan pengalaman berharga. Jika baik jadikan sebagai pendorong semangat untuk mempertahankan dan meningkatkannya. Kebaikan masa lalu membuahkan kebaikan hari ini.

Perbanyaklah menanam kebaikan. Sebab kebaikan akan kembali kepada Si penanam. Begitu juga kalau kita menanam keburukan dalam hidup, keburukan itu akan memantul kembali kepada pelakunya.

Jika masa lalu kita buruk, maka jangan sampai gelapnya kehidupan itu kita bawa menuju masa depan. Meski demikian, ada sisi positipnya, keburukan tadi menjadi pelajaran berharga bagi seseorang untuk tidak mengulanginya.

Kalimat klise berikutnya mengatakan, “Masa kini adalah “kenyataan”, maka perlu diperjuangkan.”  Berjuang harus dengan kesungguhan, kerja keras dan pengorbanan. Orang yang mengisi masa kini dengan leha-leha, maka dia akan digilas oleh zaman.  Tersenyumlah dunia akan tersenyum. Jangan menangis, karena dunia mentertawakanmu.

Jadilah orang “wajib” yaitu sosok pribadi yang wajib hadir di tengah orang lain. Kalau datang orang lain senang, kalau tidak datang dirindukan. Kehadirannya menggenapkan dan absennya mengganjilkan.  Jangan menjadi pribadi yang kalau datang mengganjilkan dan kalau tidak datang malah menggenapkan.

Kalimat klise berikutnya, “Masa depan adalah “harapan”, maka perlu direncanakan.”  Kita yakin, masa depan adalah cita-cita maka perlu persiapan nyata bukan sekedar angan-angan. Sebagian orang mengatakan ada dua masa depan yakni; masa depan di hari tua dan masa depan di akhirat.

Masa depan di hari tua kita persiapkan dengan berbagai karya di masa muda sehingga kelak kita akan menuai hasilnya. Sedang masa depan akhirat kita persiapkan dengan berbagai amal kebajikan sehingga kelak di akhirat tidak menimbulkan penyesalan.

Yang paling penting, apapun kondisi kita saat ini, kita tak usah pilu dengan masa lalu. Tak perlu merasa suram dengan masa depan. Karena selama masih ada kehidupan tentu masih ada harapan. Kata orang Jawa, “Ana dina ana upa” (Ada hari ada nasi). Persiapkan dan songsong masa depan dengan semangat pantang menyerah.

Dalam bahasa agama, kita hendaknya berprasangka baik kepada Tuhan yang telah menciptakan kehidupan dengan perencanaan dan ketetapan yang begitu sempurna. Allah tidak membebani hambaNya dengan  beban di luar batas kemampuan. Semua beban telah diukur dengan kemampuan manusia.

Maka yang paling penting adalah mengisi lintas waktu secara maksimal agar hasilnya memuaskan.  Orang seriuslah yang akan menikmati sukses. Ada beberapa catatan yang harus kita cermati tentang mengisi waktu ini.

Waktu Tidak Bisa Diputar Kembali

Dalam buku karya penulis berjudul “Andai Sehari 30 Jam” dijelaskan pentingnya mengisi waktu. Saya kira pembaca sepakat dengan hal ini. Waktu terus berjalan. Dia tidak bisa diputar kembali, tidak dapat diulang kembali.waktu juga tidak dapat berhenti. Kita harus menggunakannya dengan sebaik-baiknya agar waktu tidak hilang sia-sia.

Waktu terus berjalan. Tahun ini bukan tahun lalu, bulan ini bukan bulan lalu, bahkan hari ini berbeda dengan hari kemarin. Jam juga terus berjalan, sedetik tidak berhenti walau jam dinding dimatikan atau pun diputar mundur sebab mataharinya tetap dan terus berjalan.

Dengan kata lain, semua hamba berjalan, walaupun nampaknya duduk atau bahkan tidur. Yaitu berjalan menuju akhirat. Di sana nanti hari akan dipanjangkan hingga sama dengan 1000 tahun, bahkan bagi orang kafir satu hari sama dengan lima puluh ribu tahun.

Dan kita pasti menuju ke sana. Ada yang menuju ke surga tapi mampir dulu di neraka sementara. Satu menit di akhirat bisa berarti ribuan tahun di dunia sekarang. Maka, jangan sia-siakan waktu. Gunakan waktu untuk agama agar tidak kecewa kelak di hapadan Allah.

Kita perlu mengatur penggunaan waktu dengan baik berupa kegiatan yang positif. Jika sekiranya ada kegiatan yang tidak berguna alias mubadzir segera menggantinya dengan kegiatan lain yang lebih berguna untuk menambah amal sholeh sebagai investasi akhirat.

Apakah waktu sudah dipergunakan dengan sebaik-baiknya? Untuk melukiskan perjalanan waktu, ada baiknya menyimak i “dialog imajiner” antara seseorang dengan waktu. Apa saja yang dibicarakan? Berikut petikannya.

Hai menit, engkau mau kemana?
Aku sedang berjalan untuk melaksanakan tugas.
Kembalilah sebentar, ada hal penting yang ingin ku bicarakan denganmu.

Maaf, aku tidak boleh kembali. Aku harus terus berjalan ke depan. Allah melarangku kembali ke belakang, 
jarak tempuh yang harus kulalui masih panjang dan pasti. Tetapi khusus jatah waktu untuk dirimu tinggal beberapa saat saja. Sebentar lagi waktumu akan segera berakhir.
Lho sebentar lagi waktuku akan berakhir?

Iya. Sebentar lagi dirimu kutinggal dan aku akan pindah ke tempat lain. Engkau akan membujur kaku di liang lahat seorang diri. Di sana engkau akan ditanya tentang kebiasaanmu menyia-nyiakan waktu. Malaikat ingin melihat mana yang lebih banyak penggunaan waktu untuk kebaikan atau untuk dosa.

Orang yang memanggil menit tadi tertunduk. Dia menyesali bahwa selama ini dirinya sering menyia-nyiakan waktu. Ia enggan melakukan kebaikan seperti shalat berjamaah, puasa sunnah, membaca Al Quran, berdzikir, shalat lail, menyantuni fakir miskin, dll. Sebaliknya dia sering mengisi perjalanan waktu untuk berbuat dosa, lupa taubat, dan tidak peduli terhadap orang miskin, anak yatim dan asyik dengan bisikan nafsunya yang mengajak berbuat maksiat sehingga mengalami kerenggangan batin dengan Allah.

Menit, kalau begitu kembalilah sekejab saja. Saya berjanji akan mengisimu dengan amal sholeh.
Tidak bisa. Saya tidak boleh kembali. Saya harus berjalan lurus ke depan. Tugasku melalui bentangan alam ini sampai kiamat.

Engkau dengar suaraku kan?
Ia, saya mendengar. Tapi maaf, aku tidak bisa menuruti permintaanmu. Karena engkau selama ini telah menyia-nyiakanku.

(Kita sering kali lengah menggunakan waktu untuk hal-hal yang produktif. Banyak waktu yang terbuang percuma. Entah berapa juta menit yang terbuang sia-sia. Andai hal itu dipergunakan untuk dzikir, baca Quran, atau membantu sesama manusia akan sangat bermanfaat bagi kehidupan. Semoga ke depan kita lebih berhati-hati dalam menggunakan waktu agar kelak dapat mempertanggungjawabkan. Terinspirasi oleh buku Efisiensi Waktu dalam Konsep Islam karya Jasiem M. Badr Al-Mathowi) (*)





 
Kekayaan paling berharga adalah ilmu. Orang kaya harta sibuk menjaga hartanya. Orang kaya ilmu, ilmunya yang menjaga dirinya, demikian kata Ali bin Abi Tholib Ra.

Ilmu saja belum cukup, harus ada pelengkapnya yang bernama semangat. Keduanya tidak bisa dipisahkan. Orang berilmu harus memiliki semangat menghadapi tugas, pekerjaan, tantangan dan risiko.

Orang seperti ini memiliki pertimbangan yang matang. Mereka berupaya untuk tahu cara mengatasi tantangan secara tepat. Dia mengetahui risiko setiap langkahnya. Dia paham,  “Tidak ada makan siang yang gratis.”

Semakin besar tindakan seseorang semakin besar risikonya. Semakin tinggi pohon kian kencang terpaan angin. Maka, setiap tantangan dianggap sebagai hal wajar dan biasa-biasa saja. “Nelayan yang hebat lahir dari hempasan gelombang yang dahsyat.”

Itulah yang selalu jadi pedoman pejuang kebenaran. Plato, Aristoteles, dan orang besar selalu menghadapi risiko. Ini juga dirasakan Sigmund Freud. Buku The Interpretation of Dream hanya terjual 600 eksemplar dan hanya mendatangkan $ 250 royalti dalam delapan tahun pertama. Tetapi akibat dari tantangan seretnya penjualan buku itu dia menjadi bapak dalam bidang psikologi.

Tantangan mampu memicu semangat. BJ Habibie ketika banyak warga demo, berkomentar, “Saya senang rakyat bangkit setelah lama tidak berani bersuara. BJ Habibie paham risiko menghadapi vokalnya rakyat. Itulah semangat ilmuwan yang kebetulan menjadi presiden.

Para pejuang idiologi agama juga begitu. Banyak yang telah mempersembahkan keringat, waktu, raga dan nyawa untuk tegakkan kebenaran. Lihat Bilal bin Rabbah yang disiksa di atas batu panas dengan dada ditindihi batu besar sehingga tidak bisa berucap apapun kecuali Ahad-ahad (Allah yang Maha Esa),

Asiyah, istri Fir’aun juga sama. Aroma sorganya tercium Nabi Saw ketika mi’roj karena dia mampu menegakkan kebenaran agama di tengah kekufuran sang suami. Ali Yasir, sahabat nabi Saw, tabah walau disiksa oleh orang kafir bersama ayah dan ibunya. Atas kemampuannya bertahan pada kebenaran agama itu, dia telah ditunggu sorga. Itulah risiko pejuang kebenaran....(*)

 


Allah Maha Indah. Semua ciptaan-Nya juga kebagian cipratan keindahan-Nya. Lihat debur ombak di laut yang tidak pernah berhenti. Antar satu debur dengan deburan yang laing saling kejar. Sesampainya di tepi si ombak “memukul” tebing sehingga memantulkan musik nan indah dan memesona.

Lihat bunga yang tak pernah habis rancangan-Nya kita simak. Mulai bentuk kelopak, warna yang terpantul,  aroma yang beraneka bau, dan ilustrasi daun dan tangkai yang menyangganya. Semua itu “membentengi” keinginan orang yang akan protes terhadap Allah yang akan mengatakan bahwa Allah tidak kreatif. Semua bantahan “terkubur” oleh kenyataan yang kita saksikan di tengah hamparan alam ini.

Tengok ke Barat dan Timur ketika matahari hendak terbenam atau ketika akan menyembul. Coretan tinta alam yang begitu serasi, indah, dan memukau. Allah sungguh luar biasa. Semua planet dan tata surya bergerak sesuai sunnatullah. Tunduk, taat, dan tak ada sikap membangkang.

Yang sering membangkang adalah manusia yang didalam dirinya dilengkapi akal budi, jiwa, rasa, dan kemauan. Manusia selalu saja ingin melakukan hal yang “menerjang” kemauan Allah. Maksiat demi maksiat ditumpuknya. Dosa demi dosa dilakukan dengan penuh gelak tawa, tanpa sesal.
Untung Allah maha Pengampun. Dan, pintu ampunan-Nya jauh lebih luas dari dosa yang dilakukan hamba-Nya.

Andai ada hambaKu datang dengan membawa dosa sepenuh langit dan bumi, sedang di dalam hatinya tulus akan bertaubat, maka dosanya Aku ampuni. Kalau dia datang dengan berjalan, ku sambut dengan berlari....
Bahkan, kalau ada dosa terjadi antar jam, maka saat shalat lima waktu dosa itu diampuninya. Kalau ada dosa harian, maka setiap shalat Jumat dampuni. Dan, kalau ada dosa bulanan, maka setiap ramadhan dosa diampuni. Singkat kata, allah begitu sayang kepada hamba-Nya bernama manusia yang sering khilaf dan salah.

Ya Allah, ampuni dosaku yang terus bertambah. Dosa yang dilakukan penuh kesadaran. Dosa yang memenuhi rerung jiwa, dan bahkan menyesakkan kehidupan ini... ya Allah ampuni semua itu.... Saya sadar semua ciptaanMu tak ada yang mubadzir, semoga hal itu dapat menambah kesadaran pada diri ini untuk selalu mendekat kepadaMu. (*)



Allah Maha Indah. Semua ciptaan-Nya juga kebagian cipratan keindahan-Nya. Lihat debur ombak di laut yang tidak pernah berhenti. Antar satu debur dengan deburan yang laing saling kejar. Sesampainya di tepi si ombak “memukul” tebing sehingga memantulkan musik nan indah dan memesona.

Lihat bunga yang tak pernah habis rancangan-Nya kita simak. Mulai bentuk kelopak, warna yang terpantul,  aroma yang beraneka bau, dan ilustrasi daun dan tangkai yang menyangganya. Semua itu “membentengi” keinginan orang yang akan protes terhadap Allah yang akan mengatakan bahwa Allah tidak kreatif. Semua bantahan “terkubur” oleh kenyataan yang kita saksikan di tengah hamparan alam ini.

Tengok ke Barat dan Timur ketika matahari hendak terbenam atau ketika akan menyembul. Coretan tinta alam yang begitu serasi, indah, dan memukau. Allah sungguh luar biasa. Semua planet dan tata surya bergerak sesuai sunnatullah. Tunduk, taat, dan tak ada sikap membangkang.

Yang sering membangkang adalah manusia yang didalam dirinya dilengkapi akal budi, jiwa, rasa, dan kemauan. Manusia selalu saja ingin melakukan hal yang “menerjang” kemauan Allah. Maksiat demi maksiat ditumpuknya. Dosa demi dosa dilakukan dengan penuh gelak tawa, tanpa sesal.
Untung Allah maha Pengampun. Dan, pintu ampunan-Nya jauh lebih luas dari dosa yang dilakukan hamba-Nya.

Andai ada hambaKu datang dengan membawa dosa sepenuh langit dan bumi, sedang di dalam hatinya tulus akan bertaubat, maka dosanya Aku ampuni. Kalau dia datang dengan berjalan, ku sambut dengan berlari....
Bahkan, kalau ada dosa terjadi antar jam, maka saat shalat lima waktu dosa itu diampuninya. Kalau ada dosa harian, maka setiap shalat Jumat dampuni. Dan, kalau ada dosa bulanan, maka setiap ramadhan dosa diampuni. Singkat kata, allah begitu sayang kepada hamba-Nya bernama manusia yang sering khilaf dan salah.

Ya Allah, ampuni dosaku yang terus bertambah. Dosa yang dilakukan penuh kesadaran. Dosa yang memenuhi rerung jiwa, dan bahkan menyesakkan kehidupan ini... ya Allah ampuni semua itu.... Saya sadar semua ciptaanMu tak ada yang mubadzir, semoga hal itu dapat menambah kesadaran pada diri ini untuk selalu mendekat kepadaMu. (*)

Sabtu, 20 Juni 2015



 
Usianya masih muda. Tapi, jiwanya begitu dewasa. Ia telah menjadi “bapaknya” umat. Khususnya warga mualaf dan warga marginal. Pikiran dan tenaganya dipergunakan untuk menyapa, membina, dan menyantuni warga.
Kondisi ekominya tak terlalu baik. Tapi dia merasa cukup. Tak ada keluh kesah. Bersama istrinya selalu berbaur dengan umat. Warga yang semula tidak tertarik melaksanakan shalat –karena tidak tahu bacaannya—dituntunnya sehingga bisa, hafal, dan ingin ikut shalat berjamaah bersama umat Islam yang lain.

Anak-anak yang selama ini “menghabiskan” waktu untuk dolan, diarahkan naik ke masjid untuk belajar iqo’, tajadid (metode baca al quran) sehingga mereka percaya diri dan mau mengaji. Dzikir dikenalkan, asmaul husna dihafal oleh anak-anak di lereng Gunung Bromo.

Desa Wonocepoko Ayu Kec. Senduro-Kab. Lumajang yang semula sepi kegiatan agama, kini menjadi “hidup”. Waktu masuk shalat terdengar kumandang adzan, pujian, anak ngaji, dan kegiatan keagamaan lain. “Kami bersyukur dengan perkembangan ini,” ujar ustadz Dayat yang usianya baru 30 tahunan.

Untuk sekedar menopang ekonominya, ustdz dayat menanam pisang emas di belakang masjid. Kalau panen, hasilnya sebagian disimpan untuk kas dakwah, sebagian kecil untuk diri dan keluarganya. Tak ada sumber penghasilan lain. Ada “upah” bulanan yang tak seberapa besar, itu pun sering terlambat karena para donatur tak mesti lancar.

Bagi ustadz yang kini masih kuliah S-1 Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah ini, jauhnya jarak ke kota –30 km—dengan kondisi jalan parah, bukan penghalang membina umat dan mencari ilmu ke kota. Ia berupaya membuka jaringan bersama teman-teman seperjuangannya dengan komunitas muslim di kota.

Tujuannya, supaya mendapat bantun al quran, sembako, pakaian layak pakai, dan pendampingan lain. Para mualaf itu butuh disapa, didampingi, dan dikuatkan. Warga butuh pembinaan, tuntunan, dan contoh langsung. Ust. Dayat paham semua itu. Ia persembahkan pikiran, tenaga, waktu dan kemampuannya untuk para mualaf. (*)



Kamis, 18 Juni 2015




Orang-orang hebat terdahulu selalu berhati-hati dalam bergaul dengan orang lain. Mereka menjaga ucapan dan tindakannya agar tidak menyinggung perasaan orang lain apalagi menyakiti. Kalau karena khilaf sampai menyinggung atau menyakiti orang lain, mereka langsung meminta maaf kepada orang yang bersangkutan.
Para ahli sorga itu hidupnya selalu terjaga agar hatinya tidak terjangkit penyakit sombong. Sebab, seperti dikatakan Nabi, jika di hati seseorang ada kesombongan meski sebesar atom tidak bisa masuk sorga. Calon penghuni sorga selalu menjaga hatinya agar tidak terperosok ke dalam perbuatan yang dilarang agama.
Utsman bin Affan, suatu ketika jengkel kepada pembantunya. Utsman marah sampai menjewer telinga pembantunya. Setelah kejadian itu, dia menyesal bukan main sampai-sampai tidak bisa tidur. Esok harinya  Usman meminta pembantunya untuk membalasnya. Pembantunya jelas tidak mau, masak ada pembantu njewer khalifah. Namun Usman memaksanya sampai akhirnya pembantunya menuruti.
Tampaknya si pembantu malu, untuk menjewer Usman. Jeweran yang dilakukan sebatas memenuhi permintaan majikannya. Sehingga dilakukan dengan pelan. “Keraskan jeweranmu, karena balasan di dunia ini lebih ringan daripada di akhirat,” kata Utsman.
Itulah sikap pejabat di zaman khalifah. Tidak mungkin dijumpai saat ini. Sampai sekarang belum pernah kita dengar permintaan maaf dari pejabat yang bersalah kepada rakyatnya. Lihat penggusuran terjadi di mana-mana, namun pejabatnya tetap tenang-tenang saja. Malah suka adu argumentasi sebagai pembenaran atas perbuatannya.
Memang orang pintar itu bisa berkilah dengan berbagai dalih. Ketika sering dibutakan  sehingga manut disuruh apa saja oleh pejabat. Rakyat disuruh mengencangkan ikat pinggang padahal orang yang menyuruh (pejabat) tetap hidup dalam gelimang harta. Ironisnya kekayaan mereka hasil korupsi. Yang demikian ini berarti telah melakukan kebohongan publik.
Andai Utsman bin Affan masih ada,  mungkin kita diingatkan dengan peringatan keras. Apalagi mengambil hak rakyat (korupsi), salah berucap saja, Usman sampai merengek-rengek meminta maaf kepada pembantunya.

Nyalakan Lilin di Kegelapan
Hidup harus memberi manfaat. Nabi Saw menegaskan, “Sebaik-baik orang adalah, mereka yang memberi manfaat bagi orang lain.”
Manusia dapat belajar dari lilin. Dia menerangi orang lain, bukan merusak kehidupan. Lebih baik nyalakan lilin daripada mengutuk kegelapan. Artinya berbuatlah sesuatu agar memberi solusi tepat ketimbang menyalahkan keadaan. Jangan hidup seperti duri yang mencucuk diri dan menyakiti orang lain.
Sebuah kalimat bijak mengatakan, “Matinya orang baik ibarat padamnya lilin berwewangian. Ia menggantikan hilangnya cahaya dengan bau harum yang ia tinggalkan.” (Owen Fellthan). Artinya, kita harus selalu memberi kebaikan kepada lingkungan baik di masa hidup maupun setelah tiada karena jasa kita.
Biasanya orang yang demikian dirindukan orang lain. Ucapannya menjadi petuah bak penyuluh di tengah kegelapan. Berbeda dengan orang yang apriori pada orang lain. Dia tidak diperhitungkan. Bahkan kata Ali bin Abi Tholib, orang seperti ini ibarat mayat hidup. Dia hidup tapi seperti mati karena tidak punya peran apa-apa.
Kita jangan menjadi orang yang tidak punya pendirian, seperti dikatakan dalam peribahasa,” Kemana kelok lilin, ke sana kelok loyang.” Dia menurut saja apa kata orang. Kata orang Madura biasanya hanya,” Norok buntek” alias ikut-ikutan. Kemana angin bertiup ke sana dia berjalan.

Unordered List

Sample Text

Diberdayakan oleh Blogger.

Lembaga Pelatihan "The Power Of Love"

Popular Posts

Recent Posts

Text Widget