Allah SWT memberi jatah
umur kepada kita tidak lama. Beda dengan umat terdahulu mencapai ratusan tahun.
Sekarang, umur manusia dalam kisaran di bawah seratus tahun. Nabi Saw
menegaskan, “Umur umatku ada dalam kisaran antara 60-70 tahun.” Jadi cukup pendek dibanding umat terdahulu.
Maka, Allah mengingatkan
bahwa manusia itu merugi hidupnya.
Kecuali mereka yang beriman, beramal sholeh, saling mengingatkan tentang
kebenaran dan kesabaran (al Asyr 1-3). Intinya, mereka yang tidak rugi itu yang
beriman dan yang mampu mengisi lintas waktu yang terbatas itu dengan kebaikan.
Ada kalimat klise yang
begitu populer. Yaitu, masa lalu adalah “pengalaman”, maka perlu dijadikan
pelajaran. Apa yang kita lakukan—baik atau buruk—merupakan pengalaman berharga.
Jika baik jadikan sebagai pendorong semangat untuk mempertahankan dan
meningkatkannya. Kebaikan masa lalu membuahkan kebaikan hari ini.
Perbanyaklah menanam
kebaikan. Sebab kebaikan akan kembali kepada Si penanam. Begitu juga kalau kita
menanam keburukan dalam hidup, keburukan itu akan memantul kembali kepada
pelakunya.
Jika masa lalu kita
buruk, maka jangan sampai gelapnya kehidupan itu kita bawa menuju masa depan.
Meski demikian, ada sisi positipnya, keburukan tadi menjadi pelajaran berharga
bagi seseorang untuk tidak mengulanginya.
Kalimat klise berikutnya
mengatakan, “Masa kini adalah “kenyataan”, maka perlu diperjuangkan.” Berjuang harus dengan kesungguhan, kerja
keras dan pengorbanan. Orang yang mengisi masa kini dengan leha-leha, maka dia
akan digilas oleh zaman. Tersenyumlah
dunia akan tersenyum. Jangan menangis, karena dunia mentertawakanmu.
Jadilah orang “wajib”
yaitu sosok pribadi yang wajib hadir di tengah orang lain. Kalau datang orang
lain senang, kalau tidak datang dirindukan. Kehadirannya menggenapkan dan
absennya mengganjilkan. Jangan menjadi
pribadi yang kalau datang mengganjilkan dan kalau tidak datang malah
menggenapkan.
Kalimat klise berikutnya,
“Masa depan adalah “harapan”, maka perlu direncanakan.” Kita yakin, masa depan adalah cita-cita maka
perlu persiapan nyata bukan sekedar angan-angan. Sebagian orang mengatakan ada dua
masa depan yakni; masa depan di hari tua dan masa depan di akhirat.
Masa depan di hari tua
kita persiapkan dengan berbagai karya di masa muda sehingga kelak kita akan
menuai hasilnya. Sedang masa depan akhirat kita persiapkan dengan berbagai amal
kebajikan sehingga kelak di akhirat tidak menimbulkan penyesalan.
Yang paling penting, apapun
kondisi kita saat ini, kita tak usah pilu dengan masa lalu. Tak perlu merasa
suram dengan masa depan. Karena selama masih ada kehidupan tentu masih ada
harapan. Kata orang Jawa, “Ana dina ana
upa” (Ada hari ada nasi). Persiapkan dan songsong masa depan dengan
semangat pantang menyerah.
Dalam bahasa agama, kita
hendaknya berprasangka baik kepada Tuhan yang telah menciptakan kehidupan
dengan perencanaan dan ketetapan yang begitu sempurna. Allah tidak membebani
hambaNya dengan beban di luar batas
kemampuan. Semua beban telah diukur dengan kemampuan manusia.
Maka yang paling penting
adalah mengisi lintas waktu secara maksimal agar hasilnya memuaskan. Orang seriuslah yang akan menikmati sukses.
Ada beberapa catatan yang harus kita cermati tentang mengisi waktu ini.
Waktu Tidak Bisa Diputar Kembali
Dalam buku karya penulis berjudul
“Andai Sehari 30 Jam” dijelaskan pentingnya mengisi waktu. Saya kira pembaca
sepakat dengan hal ini. Waktu terus berjalan. Dia tidak bisa diputar kembali,
tidak dapat diulang kembali.waktu juga tidak dapat berhenti. Kita harus
menggunakannya dengan sebaik-baiknya agar waktu tidak hilang sia-sia.
Waktu terus berjalan.
Tahun ini bukan tahun lalu, bulan ini bukan bulan lalu, bahkan hari ini berbeda
dengan hari kemarin. Jam juga terus berjalan, sedetik tidak berhenti walau jam
dinding dimatikan atau pun diputar mundur sebab mataharinya tetap dan terus
berjalan.
Dengan kata lain, semua hamba
berjalan, walaupun nampaknya duduk atau bahkan tidur. Yaitu berjalan menuju
akhirat. Di sana nanti hari akan dipanjangkan hingga sama dengan 1000 tahun,
bahkan bagi orang kafir satu hari sama dengan lima puluh ribu tahun.
Dan kita pasti menuju ke
sana. Ada yang menuju ke surga tapi mampir dulu di neraka sementara. Satu menit
di akhirat bisa berarti ribuan tahun di dunia sekarang. Maka, jangan sia-siakan
waktu. Gunakan waktu untuk agama agar tidak kecewa kelak di hapadan Allah.
Kita perlu mengatur penggunaan waktu
dengan baik berupa kegiatan yang positif. Jika sekiranya ada kegiatan yang
tidak berguna alias mubadzir segera menggantinya dengan kegiatan lain yang
lebih berguna untuk menambah amal sholeh sebagai investasi akhirat.
Apakah waktu sudah dipergunakan
dengan sebaik-baiknya? Untuk melukiskan perjalanan waktu, ada baiknya menyimak “dialog imajiner” antara seseorang
dengan waktu. Apa saja yang dibicarakan? Berikut petikannya.
Hai menit, engkau mau kemana?
Aku sedang berjalan untuk melaksanakan tugas.
Kembalilah sebentar, ada hal penting yang ingin ku
bicarakan denganmu.
Maaf, aku tidak boleh kembali. Aku harus terus
berjalan ke depan. Allah melarangku kembali ke belakang,
jarak tempuh yang
harus kulalui masih panjang dan pasti. Tetapi khusus jatah waktu untuk dirimu
tinggal beberapa saat saja. Sebentar lagi waktumu akan segera berakhir.
Lho sebentar lagi waktuku akan berakhir?
Iya. Sebentar lagi dirimu kutinggal dan aku akan
pindah ke tempat lain. Engkau akan membujur kaku di liang lahat seorang diri.
Di sana engkau akan ditanya tentang kebiasaanmu menyia-nyiakan waktu. Malaikat
ingin melihat mana yang lebih banyak penggunaan waktu untuk kebaikan atau untuk
dosa.
Orang yang
memanggil menit tadi tertunduk. Dia menyesali bahwa selama ini dirinya sering
menyia-nyiakan waktu. Ia enggan melakukan kebaikan seperti shalat berjamaah,
puasa sunnah, membaca Al Quran, berdzikir, shalat lail, menyantuni fakir
miskin, dll. Sebaliknya dia sering mengisi perjalanan waktu untuk berbuat dosa,
lupa taubat, dan tidak peduli terhadap orang miskin, anak yatim dan asyik
dengan bisikan nafsunya yang mengajak berbuat maksiat sehingga mengalami
kerenggangan batin dengan Allah.
Menit, kalau begitu kembalilah sekejab saja. Saya
berjanji akan mengisimu dengan amal sholeh.
Tidak bisa. Saya tidak boleh kembali. Saya harus
berjalan lurus ke depan. Tugasku melalui bentangan alam ini sampai kiamat.
Engkau dengar suaraku kan?
Ia, saya mendengar. Tapi maaf, aku tidak bisa menuruti
permintaanmu. Karena engkau selama ini telah menyia-nyiakanku.
(Kita sering kali
lengah menggunakan waktu untuk hal-hal yang produktif. Banyak waktu yang
terbuang percuma. Entah berapa juta menit yang terbuang sia-sia. Andai hal itu
dipergunakan untuk dzikir, baca Quran, atau membantu sesama manusia akan sangat
bermanfaat bagi kehidupan. Semoga ke depan kita lebih berhati-hati dalam
menggunakan waktu agar kelak dapat mempertanggungjawabkan. Terinspirasi oleh buku Efisiensi Waktu dalam Konsep Islam karya
Jasiem M. Badr Al-Mathowi) (*)



0 komentar:
Posting Komentar