Minggu, 21 Juni 2015




Allah Maha Indah. Semua ciptaan-Nya juga kebagian cipratan keindahan-Nya. Lihat debur ombak di laut yang tidak pernah berhenti. Antar satu debur dengan deburan yang laing saling kejar. Sesampainya di tepi si ombak “memukul” tebing sehingga memantulkan musik nan indah dan memesona.

Lihat bunga yang tak pernah habis rancangan-Nya kita simak. Mulai bentuk kelopak, warna yang terpantul,  aroma yang beraneka bau, dan ilustrasi daun dan tangkai yang menyangganya. Semua itu “membentengi” keinginan orang yang akan protes terhadap Allah yang akan mengatakan bahwa Allah tidak kreatif. Semua bantahan “terkubur” oleh kenyataan yang kita saksikan di tengah hamparan alam ini.

Tengok ke Barat dan Timur ketika matahari hendak terbenam atau ketika akan menyembul. Coretan tinta alam yang begitu serasi, indah, dan memukau. Allah sungguh luar biasa. Semua planet dan tata surya bergerak sesuai sunnatullah. Tunduk, taat, dan tak ada sikap membangkang.

Yang sering membangkang adalah manusia yang didalam dirinya dilengkapi akal budi, jiwa, rasa, dan kemauan. Manusia selalu saja ingin melakukan hal yang “menerjang” kemauan Allah. Maksiat demi maksiat ditumpuknya. Dosa demi dosa dilakukan dengan penuh gelak tawa, tanpa sesal.
Untung Allah maha Pengampun. Dan, pintu ampunan-Nya jauh lebih luas dari dosa yang dilakukan hamba-Nya.

Andai ada hambaKu datang dengan membawa dosa sepenuh langit dan bumi, sedang di dalam hatinya tulus akan bertaubat, maka dosanya Aku ampuni. Kalau dia datang dengan berjalan, ku sambut dengan berlari....
Bahkan, kalau ada dosa terjadi antar jam, maka saat shalat lima waktu dosa itu diampuninya. Kalau ada dosa harian, maka setiap shalat Jumat dampuni. Dan, kalau ada dosa bulanan, maka setiap ramadhan dosa diampuni. Singkat kata, allah begitu sayang kepada hamba-Nya bernama manusia yang sering khilaf dan salah.

Ya Allah, ampuni dosaku yang terus bertambah. Dosa yang dilakukan penuh kesadaran. Dosa yang memenuhi rerung jiwa, dan bahkan menyesakkan kehidupan ini... ya Allah ampuni semua itu.... Saya sadar semua ciptaanMu tak ada yang mubadzir, semoga hal itu dapat menambah kesadaran pada diri ini untuk selalu mendekat kepadaMu. (*)

Sabtu, 20 Juni 2015



 
Usianya masih muda. Tapi, jiwanya begitu dewasa. Ia telah menjadi “bapaknya” umat. Khususnya warga mualaf dan warga marginal. Pikiran dan tenaganya dipergunakan untuk menyapa, membina, dan menyantuni warga.
Kondisi ekominya tak terlalu baik. Tapi dia merasa cukup. Tak ada keluh kesah. Bersama istrinya selalu berbaur dengan umat. Warga yang semula tidak tertarik melaksanakan shalat –karena tidak tahu bacaannya—dituntunnya sehingga bisa, hafal, dan ingin ikut shalat berjamaah bersama umat Islam yang lain.

Anak-anak yang selama ini “menghabiskan” waktu untuk dolan, diarahkan naik ke masjid untuk belajar iqo’, tajadid (metode baca al quran) sehingga mereka percaya diri dan mau mengaji. Dzikir dikenalkan, asmaul husna dihafal oleh anak-anak di lereng Gunung Bromo.

Desa Wonocepoko Ayu Kec. Senduro-Kab. Lumajang yang semula sepi kegiatan agama, kini menjadi “hidup”. Waktu masuk shalat terdengar kumandang adzan, pujian, anak ngaji, dan kegiatan keagamaan lain. “Kami bersyukur dengan perkembangan ini,” ujar ustadz Dayat yang usianya baru 30 tahunan.

Untuk sekedar menopang ekonominya, ustdz dayat menanam pisang emas di belakang masjid. Kalau panen, hasilnya sebagian disimpan untuk kas dakwah, sebagian kecil untuk diri dan keluarganya. Tak ada sumber penghasilan lain. Ada “upah” bulanan yang tak seberapa besar, itu pun sering terlambat karena para donatur tak mesti lancar.

Bagi ustadz yang kini masih kuliah S-1 Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah ini, jauhnya jarak ke kota –30 km—dengan kondisi jalan parah, bukan penghalang membina umat dan mencari ilmu ke kota. Ia berupaya membuka jaringan bersama teman-teman seperjuangannya dengan komunitas muslim di kota.

Tujuannya, supaya mendapat bantun al quran, sembako, pakaian layak pakai, dan pendampingan lain. Para mualaf itu butuh disapa, didampingi, dan dikuatkan. Warga butuh pembinaan, tuntunan, dan contoh langsung. Ust. Dayat paham semua itu. Ia persembahkan pikiran, tenaga, waktu dan kemampuannya untuk para mualaf. (*)



Kamis, 18 Juni 2015




Orang-orang hebat terdahulu selalu berhati-hati dalam bergaul dengan orang lain. Mereka menjaga ucapan dan tindakannya agar tidak menyinggung perasaan orang lain apalagi menyakiti. Kalau karena khilaf sampai menyinggung atau menyakiti orang lain, mereka langsung meminta maaf kepada orang yang bersangkutan.
Para ahli sorga itu hidupnya selalu terjaga agar hatinya tidak terjangkit penyakit sombong. Sebab, seperti dikatakan Nabi, jika di hati seseorang ada kesombongan meski sebesar atom tidak bisa masuk sorga. Calon penghuni sorga selalu menjaga hatinya agar tidak terperosok ke dalam perbuatan yang dilarang agama.
Utsman bin Affan, suatu ketika jengkel kepada pembantunya. Utsman marah sampai menjewer telinga pembantunya. Setelah kejadian itu, dia menyesal bukan main sampai-sampai tidak bisa tidur. Esok harinya  Usman meminta pembantunya untuk membalasnya. Pembantunya jelas tidak mau, masak ada pembantu njewer khalifah. Namun Usman memaksanya sampai akhirnya pembantunya menuruti.
Tampaknya si pembantu malu, untuk menjewer Usman. Jeweran yang dilakukan sebatas memenuhi permintaan majikannya. Sehingga dilakukan dengan pelan. “Keraskan jeweranmu, karena balasan di dunia ini lebih ringan daripada di akhirat,” kata Utsman.
Itulah sikap pejabat di zaman khalifah. Tidak mungkin dijumpai saat ini. Sampai sekarang belum pernah kita dengar permintaan maaf dari pejabat yang bersalah kepada rakyatnya. Lihat penggusuran terjadi di mana-mana, namun pejabatnya tetap tenang-tenang saja. Malah suka adu argumentasi sebagai pembenaran atas perbuatannya.
Memang orang pintar itu bisa berkilah dengan berbagai dalih. Ketika sering dibutakan  sehingga manut disuruh apa saja oleh pejabat. Rakyat disuruh mengencangkan ikat pinggang padahal orang yang menyuruh (pejabat) tetap hidup dalam gelimang harta. Ironisnya kekayaan mereka hasil korupsi. Yang demikian ini berarti telah melakukan kebohongan publik.
Andai Utsman bin Affan masih ada,  mungkin kita diingatkan dengan peringatan keras. Apalagi mengambil hak rakyat (korupsi), salah berucap saja, Usman sampai merengek-rengek meminta maaf kepada pembantunya.

Nyalakan Lilin di Kegelapan
Hidup harus memberi manfaat. Nabi Saw menegaskan, “Sebaik-baik orang adalah, mereka yang memberi manfaat bagi orang lain.”
Manusia dapat belajar dari lilin. Dia menerangi orang lain, bukan merusak kehidupan. Lebih baik nyalakan lilin daripada mengutuk kegelapan. Artinya berbuatlah sesuatu agar memberi solusi tepat ketimbang menyalahkan keadaan. Jangan hidup seperti duri yang mencucuk diri dan menyakiti orang lain.
Sebuah kalimat bijak mengatakan, “Matinya orang baik ibarat padamnya lilin berwewangian. Ia menggantikan hilangnya cahaya dengan bau harum yang ia tinggalkan.” (Owen Fellthan). Artinya, kita harus selalu memberi kebaikan kepada lingkungan baik di masa hidup maupun setelah tiada karena jasa kita.
Biasanya orang yang demikian dirindukan orang lain. Ucapannya menjadi petuah bak penyuluh di tengah kegelapan. Berbeda dengan orang yang apriori pada orang lain. Dia tidak diperhitungkan. Bahkan kata Ali bin Abi Tholib, orang seperti ini ibarat mayat hidup. Dia hidup tapi seperti mati karena tidak punya peran apa-apa.
Kita jangan menjadi orang yang tidak punya pendirian, seperti dikatakan dalam peribahasa,” Kemana kelok lilin, ke sana kelok loyang.” Dia menurut saja apa kata orang. Kata orang Madura biasanya hanya,” Norok buntek” alias ikut-ikutan. Kemana angin bertiup ke sana dia berjalan.

Rabu, 20 Mei 2015



Seorang karyawan percetakan –di kota kecil—mengeluh. Pekerjaan di bagian design terus menumpuk. Padahal dia merasa maksimal bekerja di kantor, setiap hari bekerja mulai pukul 08 s/d pukul 16.00. Waktu kerja 9 jam tersebut terasa tidak cukup untuk menyelesaikan pekerjaan rutin.

Terkadang dia lembur, dan sebagian pekerjaan kantor digarap di rumah agar pekerjaan berkurang. Tetapi antara waktu yang tersedia dengan volume pekerjaan seolah tidak sebanding. Pekerjaan yang kemarin belum selesai, besoknya ketambahan lagi pekerjaan baru. Kapan pekerjaan akan selesai kalau setiap hari ditambah pekerjaan baru lagi,” keluhnya.

Bagi perusahaan sukses, volume pekerjaan tidak akan surut. Semakin terkenal tempat usaha, semakin banyak garapan. Jangan bermimpi pekerjaan berkurang. Justru akan semakin banyak dan tak kunjung habis. Memang itu yang dicari, banyaknya pekerjaan tambah pula rezekinya.

Bangsa Indonesia, memiliki jam kerja 9 jam. Beda dengan Negara maju jumlah jam kerjanya 10 atau 12 jam perhari. Manusia di Negara maju seperti robot. Waktu hanya untuk bekerja dan bekerja. Orang yang demikian ini bisa “renggang” hubungannya dengan Allah. Mereka mengisi waktu dengan urusan dunia. Anehnya, semakin banyak waktu dipakai, waktu semakin kurang.  Benar sinyalemen Nabi Muhammad SAW, “Kalau seseorang di dadanya penuh dengan urusan duniawi Allah akan menambahkan kesibukan yang lain sehingga lupa kepada-Allah”.

Allah menyediakan waktu siang dan malam masing-masing 12 jam. Itu sudah lebih dari cukup. Allah sudah “memperhitungkannya”. Waktu 24 jam merupakan “harga mati”. Artinya, tidak mungkin ditambah atau dikurangi lagi. Allah sudah merancang semua itu secara tepat.  

Bagi orang tertentu, waktu 24 jam ada yang memanfaatkan secara penuh, bekerja 9 jam sehingga malam harinya bisa istirahat. Untuk orang tertentu, jam kerja lebih dari 9 jam sehingga mengurangi waktu istirahat. Seorang presiden waktu bekerjanya lebih dari sepuluh jam. BJ Habibie semasa menjadi Presiden RI mengaku tidurnya hanya 3 jam per hari. Ia sering kali berhenti bekerja dan menuju tempat tidur setelah diingatkan oleh ajudan atau paspamres, waktu sudah larut malam. Habibie sosok manusia maniak kerja.

Sebenarnya, bukan soal 24 jam-nya yang menyebakan terasa kurang.  Melainkan cara memanfaatkannya. Ada orang yang tidak efektif menggunakan waktu, boros, tidak fokus  serta tidak terschedule. Akibatnya, waktu terasa kurang. Beda jika terbiasa tertib, tak perlu lembur. Semua bisa dibereskan dalam 9 jam kerja. Silahkan dicoba. (*)





Menuju Sa’adah...
Bahagia? Iya... bahagia!.

Sebuah kata yang cukup pendek, hanya tujuh huruf, namun sangat penting, bermakna, dan dibutuhkan. Bahagia (sa’adah, Bhs. Arab atau happy, Bhs Inggris) mudah diucapkan, namun tidak mudah diwujudkan. Bagi umat beragama bahagia –kalau bisa—tidak hanya di dunia, tetapi juga di akhirat.

Kebahagiaan selalu diidamkan semua orang. Mulai anak-anak sampai orang tua. Laki maupun perempuan, anak atau dewasa. Pemimpin maupun rakyat. Orang kota atau orang desa. Semuanya ingin bahagia.

Yang perlu dicatat, bahagia itu sudah Allah ciptakan ada sejak dulu, dan terus berlaku sampai sekarang, bahkan juga akan terus ada sampai kapan pun. Bahagia sering dibahas, tetapi bagi sebagian orang, terasa kian jauh, menganga dan jaraknya semakin lebar. Salah satu bukti adanya hal ini adalah jumlah orang prihatin, sedih, stres dan depresi di bumi mana pun terus bertambah, termasuk di negara maju termasuk di Indonesia terus bertambah. Jumlah orang stres di Indonesia naik terus. Itu berarti mereka tidak bahagia.

Kata bahagia begitu merakyat, familiar dalam ucapan dan tidak asing di telinga. Sekali lagi bahagia diinginkan semua orang. Sayangnya bahagia seperti fatamorgana. Tampak nyata dari kejauhan. Tetapi semakin didekati kian menghilang tanpa bekas. Ia seperti impian indah yang bertaburan di langit tapi sulit ditarik ke bumi.

Bahagia  bagi sebagian orang sering menjadi angan-angan yang sulit menjadi kenyataan. Meski demikian, bukan berarti tidak dapat digapai. Setiap orang pasti pernah merasakan bahagia sebagaimana mereka pernah merasakan sedih. Tugas kita, bagaimana memberi makna terhadap setiap rasa yang sedang berkecamuk dalam dada.

KHM Isa Anshari dalam bukunya Mujahid Da’wah menulis beberapa pegangan bagi kita. Yaitu, agama hanya akan dapat dirasakan oleh orang yang menegakkan dia dalam dirinya. Bahagia (sa’adah) hanya akan dirasakan oleh orang yang membela keyakinan, kebenaran dan keadilan. Kemenangan hakiki hanya diberikan kepada para  pejuang yang  rela berkorban, kuat menahankan penderitaan dan kepapaan, dst.

Seorang ibu datang kepada nabi Saw. Dia menanyakan bagaimana nasib tiga anaknya yang ikut berperang bersama nabi. Setelah mendengar dua anaknya meninggal, ibu tadi tampak bahagia. Dia bersyukur kepada Allah karena telah menjadikan dua anaknya menjadi hamba pilihan yang mati syahid. Penghargaan terhadap orang yang mati syahid tidak ada lain kecuali sorga. Pikiran ibu tadi  melebihi pikiran orang kebanyakan yang melihat bahagia hanya di dunia.

Pertanyaan kita, apa saja yang menyebabkan seseorang merasa bahagia? Insya Allah buku ini menjawab pertanyaan ini. Mudah-mudahan uraian ini dapat membuka cakrawala kita dan mempertajam dan memperluas pemahaman. Semoga. (*)


Unordered List

Sample Text

Diberdayakan oleh Blogger.

Lembaga Pelatihan "The Power Of Love"

Popular Posts

Recent Posts

Text Widget