Selasa, 04 November 2014


Kesulitan melihat kelemahan orang lain adalah salah satu ciri berpikir positif

Dua orang bersahabat duduk santai di halaman rumah. Tiba-tiba salah seorang dari mereka berkata,  “Tuh lihat, kancing bajumu nggak kau pasang!”

Merasa diingatkan ia mengucapkan terima kasih. Tetapi, sebentar, kata dia menyela. “Tuh kancing bajumu malah hilang!.” 

Begitulah kehidupan ini. Kalau mencari kekurangan orang lain jauh lebih mudah daripada membaca kekurangan diri sendiri. “Kuman di seberang lautan tampak jelas, gajah di pelupuk mata tidak kelihatan.”

Jika konsentrasi perhatian seseorang pada orang lain hanya pada kekurangannya, maka kebaikan orang lain tidak kelihatan. Dia menganggap yang paling baik hanya dirinya sendiri. Sedang orang lain selalu tampak gelap, penuh kekurangan. Begitulah cara berpikir negatif.

Berbeda dengan orang yang berpikir positif. Dia sulit melihat kekurangan orang lain. Sebab yang tampak selalu kebaikannya. Tidak ada buruk sangka alias su’udzon, yang terjadi adalah baik sangka terhadap orang lain alias husnu dzon.


Di antara syarat agar seseorang berpikir positif, adalah mengalahkan hawa nafsu. Sebab bisikan hawa nafsu selalu melihat orang lain dari sisi jeleknya saja. Orang berpikir positif dalam melihat orang lain menggunakan kacamata putih semua tampak bersih. 

Dia mengakui kelebihan orang lain dan mau belajar dari mereka. (*) 

Senin, 03 November 2014

Calon Ahli Sorga, Tidak Dengki




Dalam suatu kesempatan di sebuah majelis, Nabi Muhammad saw bertanya kepada para sahabat. “Apakah kalian ingin tahu calon penghuni sorga?” Betul, ya Rasulullah, jawab mereka.

Sebentar lagi orangnya datang kemari, kata Nabi. Tidak lama berselang, datang seseorang dengan wajah basah karena air wudlu. Setelah mengucapkan salam, tamu tadi langsung duduk. Tidak ada keistimewaan yang dilakukan.

Esok harinya, pertanyaan serupa disampaikan lagi oleh Nabi. Sahabat pun menjawab dengan kalimat yang sama. Ternyata, orang yang datang tetap masih yang kemarin. Begitu kejadian tersebut berturut-turut sampai tiga hari.

Akhirnya, para sahabat pun penasaran. Ketika tamu tadi hendak pulang, ada diantara sahabat yang megikutinya. Sesampai di rumah orang tersebut, sahabat Nabi yang membuntuti menjelaskan – pura-pura – kalau dirinya baru bertengkar dengan ayahnya  sehingga tidak berani pulang.

“Bolehkah saya bermalam di rumah ini untuk beberapa waktu ?”Tuan rumah tadi tidak keberatan dan mempersilahkan bermalam.

Sehari dua hari, bahkan tiga hari dia selalui mengintip apa yang selalu dilakukan ahli sorga tadi. Aneh, tidak ada yang istimewa. Karena merasa cukup, tamu tadi pamit pulang.
Sebelum pamit, memberanikan diri bertanya kepada tuan rumah. “Tuan, amalan apa yang biasa Anda lakukan sehingga Anda oleh Nabi disebut sebagai  sebagai calon penghuni sorga ?”

Tidak ada. Biasa saja, seperti yang tuan lihat sendiri selama tiga hari di sini, begitu antara lain jawabannya.

Kalau begitu saya ucapkan terima kasih dan mohon maaf. Terima kasih karena Tuan sudah menerima saya bermalam di sini. Dan mohon maaf karena saya berbohong kepada Tuan. Sebenarnya saya tidak bertengkar dengan ayah.
Lantas?

Iya, saya hanya ingin bermalam di sini. Yang saya katakan bertengkar cuma alasan saja. Tujuan saya ingin melihat seperti apa kebiasaan Tuan sehingga Nabi begitu mengistiwakan anda.

Setelah dialog selesai, dan tamunya pamit pulang, tuan rumah tadi mengatakan. “Saya tidak punya amalan istimewa, yang selalu saya jaga adalah, saya tidak pernah punya sikap dengki pada orang lain. Itu saja. “
Jadi sifat itu yang Tuan jaga?
Betul.
Setelah mengetahui bahwa calon penghuni sorga tidak punya dengki pada orang lain, maka puas lah dia atas jawaban tersebut. Baik, Tuan saya sangat berterima kasih. Dan dia pun pamit pulang. *
 

Minggu, 02 November 2014



Hidup ini berada di antara dua kemungkinan: tersenyum atau menangis. Hal itu dapat kita saksikan di mana-mana, dan kita pasti pernah mengalami.

Kita terperangah menyaksikan keajaiban peristiwa. Ada pesawat jatuh, seluruh penumpang meninggal kecuali anak kecil selamat. Siapa yang “melindungi” anak tsb? Yang jelas, ada tangan “gaib” yang Maha Melindungi.

Di Amerika, terjadi kecelakaan hebat. Sebuah mobil jatuh, masuk jurang cukup dalam. Ibu yang nyetir meninggal. Anak balitanya segar bugar. Balita tadi hidup berhari-hari di dekat jenazah ibunya yang membusuk. Dia tidak tahu harus berbuat apa kecuali menangis karena lapar dan haus.

Di tempat lain, di negeri kita. Ada anak balita berumur enam bulan perutnya terus membesar. Setelah diperiksa dokter, diketahui dia hamil. Subhanallah. Kata dokter, janin tersebut calon kembarannya. Tetapi karena masuk ke rahim balita sejak kandungan, kembaran tadi menjadi janin. Agar selamat, dokter melakukan operasi cesar.

Ada lagi! Seorang wanita–maaf—akalnya tidak sehat, tiba-tiba diketahui hamil dan akhirnya melahirkan. Ada seorang pria tidak normal yang selalu menyertai. Orang mengira dialah suaminya. Akalnya tak sempurna, tapi nafsunya tetap “jalan” seperti orang normal.

Melihat peristiwa ini otak manusia tidak mampu menembus rahasia di balik keganjilannya. Bagi Allah, itu tidak aneh. Setiap kejadian sudah dalam perencanaanNya. Hanya kemampuan pikiran manusialah  yang terbatas sehingga tak mampu mencari jawabnya.

Orang beriman melihat kenyataan tersebut selain menghela nafas dalam-dalam, lisannya mengatakan: Subhanallah. Maha suci Allah, tidak ada yang kurang sedikitpun. Semua itu memberi signal bahwa di balik kejadian itu ada rahasia mendalam tentang kekuasaan Allah Swt.

Apa saja yang dimaui Allah, pasti terjadi. Bagi Allah cukup dengan ‘kun’ (jadilah), maka jadi. Mungkin manusia menganggap berat, tetapi bagi Allah tidak sulit. It’s very easy, mudah.

Misalnya, Allah menghancurkan suatu kaum karena kufur. Mudah. Umat terdahulu, seperti umat Nabi Luth, Nabi Nuh, dan nabi yang lain, semua berantakan diazab. Ini sebagai ibrah alias pelajaran bagi kaum setelahnya.

Bagi Allah tidak susah mengubah orang kaya menjadi miskin dalam hitungan detik, atau menit. Mungkin lewat serangan penyakit, kebakaran, perampokan, dsb. Atau, sebaliknya mengubah orang miskin menjadi kaya mendadak. Lihat anak tukang becak Ferry, berkat ikut Akademi Fantasi Indonesiar (AFI) menjadi kaya raya. Bupati Zainal Arifin, di daerah Feery memberi 4 ha lahan kelapa sawit siap panen, hadiah mobil dari panitia, dan hadiah lain yang cukup besar, Di sekitar kita masih banyak contoh lain.

Kita yang awam ini, sama sekali tidak tahu apa rencana Allah pada diri dan keluarga kita. Dengan sadar kita akui, kita buta untuk melihat masa depan. Jangankan masa depan dalam hitungan tahun untuk kejadian dalam waktu satu jam ke depan saja kita tidak tahu. Tugas kita hanyalah tiga hal saja: memperbanyak doa, ikhtiar dan tawakkal kepada Allah.

Karena kita “buta melihat masa depan, yang baik adalah melihat perjalanan hidup. Tengok masa lalu, apa yang kita lakukan. Setiap orang pasti menghamparkan sajadah kehidupan berwarna putih, tanpa dosa. Itu awal turun ke dunia.

Tetapi, seiring perjalanan waktu, kita sering terjebak dengan perilaku tak terpuji sehingga sajadah putih berubah warna, penuh bercak, bahkan jadi hitam. Ketika kita mengetahui kondisi itu, secepatnya mendongak ke atas: mohon ampun. Berjanji tidak mengulangi.

Usai demikian, tengok ke depan, apa yang akan kita lakukan. Mengulang kesalahan, atau membasuh kaki bersih-bersih untuk melangkah ke sajadah kehidupan agar tetap bersih?. Tekad membersihkan diri, melahirkan perilaku terpuji. Orang seperti ini hatinya selalu dekat dengan Allah.

Kalau langkah kita tiba-tiba berubah menjadi liar menuju dosa, segeralah kembali, lari menuju Allah. Menengok ke depan berarti menabung amal kebajikan agar nanti bisa dipetik panen dengan gembira. Orang yang demikian nanti tersenyum disaat orang lain menangis. Dan selama di dunia, dia selalu menangis disaat orang lain tertawa. Bisakah kita? (*)









    

 

Buku Kisah Sejati Orang-Orang Mati Suri merupakan rangkuman kisah sejumlah orang yang pernah mengalami mati suri.

Di antaranya dikisahkan, seseorang sedang menghadapi sakaratul maut. Saat mencapai puncak kritis fisiknya, ia mendengar dirinya dinyatakan mati oleh dokter. Saat itu mulai mendengar bunyi yang tidak menyenangkan, berdering dan mendesing. Di saat yang sama dirinya merasa bergerak cepat melalui terowongan gelap dan panjang.

Setelah itu tiba-tiba sudah merasa berada di luar jasabnya tetapi masih tetap berada dalam lingkungan yang sama. Orang tadi merasa melihat jasad dirinya dari jarak tertentu, seperti tengah menonton jasad orang lain. Dilihatnya orang di sekitar jasad dirinya memberi pertolongan agar hidup kembali.

Setelah beberapa saat dia mulai terbiasa dengan keadaan aneh. Tetapi waktu itu dirinya tetap di luar jasadnya. Namun, merasakan masih mempunyai “badan” meski sifat dan kekuatannya angat berlainan dengan jasad yang ditinggalkannya.
Tidak lama kemudian hal aneh terjadi. Orang yang meninggal tersebut melihat arwah saudara dan kawan-kawannya yang lebih dahulu meninggal. Dia melihat sorot cahaya aneh namun penuh cinta kasih yang tidak pernah ditemui sebelumnya…..

Begitu Roymond A. Moody, Jr.M.D melukiskan dalam bukunya. Dalam buku ini dijelaskan sejumlah kisah dari orang-orang yang mengalami mati suri yang pernah diwawancarai. Ketika seseorang mengalami mati suri, di dalamnya ada saja yang menakutkan, seram, dan aneh, tetapi ada juga yang menyenangkan.

Menghadapi keadaan misteri itu, sikap seseorang bermacam-macam. Ada yang ketakutan sampai menjerit-jerit. Sepertinya melihat kobaran api menjilat-jilat yang akan membakar tubuhnya. Ada yang merasa kedatangan tamu penuh ceria dan meninggalkan kenangan manis yang mendalam.

Dalam buku Gerbang Kematian disebutkan banyak orang gugup menghadapi kematian. Sampai-sampai ketika dituntun membaca kalimat laailaaha ilallah ada yang tidak bisa menirukan. Justru ada yang mengatakan dengan ucapan keras, “skak!” . Ada juga orang yang ketika dituntun membaca kalimat syahadat menyebut-nyebut harga kain. Begitu kalutnya seseorang saat menghadapi sakaratul maut.

Berita Kematian

Dalam banyak referensi dijelaskan kematian –khusus bagi hamba terpilih—sudah diberitahukan kepada yang bersangkutan sebelumnya. Orang alim selalu memahami putihnya rambut, kulit keriput, keroposnya tulang, dan berkurangnya pandangan dan pendengaran, dipahaminya sebagai “berita” kematain.

Sering kita dengar ada orang mengatakan kalimat aneh sebelum meninggal. Orang di sekitarnya tidak mengerti makna ucapannya, tetapi yang bersangkutan sudah merasakan ada tanda-tanda akan tutup usia. Orang lain baru tahu maksud yang diucapkan setelah datangnya kematian bagi orang tadi.

Umar bin Khottob dalam suatu khutbah Jum’at mengatakan, “Saya semalam bermimpi, ada burung pelatuk dari Romawi mematuk tubuh saya tiga kali. Setelah saya tanya kepada penafsir, dikatakan bakal ada orang yang akan membunuh saya. Kalau itu benar, semoga saya mati syahid,” kata Umar.
Orang yang mendengar khutbah menganggap apa yang diuraikan Umar aneh. Padahal, Umar sudah mencium bakal datangnya kematian dirinya, cuma saja orang sekitarnya belum paham.  

Para sahabat baru membenarkan ucapan Umar esok paginya. Ketika Umar ngimami shalat Subuh, Abu Lu’lu’ datang membawa sebilah senjata tajam, tanpa beban senjata tadi dihujamkan ke tubuh Umar tanpa ada perlawanan sedikit pun. Umar pun jatuh.
Abdurrahman bin Auf yang menjadi makmum di belakang Umar maju selangkah, melanjutkan shalat berjamaah menggantikan Umar. Tetapi Abdurahmam bin Auf terus menangis saat membaca surat-surat al-Qur’an karena melihat Umar bersimbah darah di tempat imam shalat dekat dirinya.

Abu Lu’lu’ keluar masjid sambil menyabet barisan di belakang Umar dengan senjata yang terhunus. Dikisahkan 7 jamaah lainnya mati syahid dan 6 lainnya luka-luka akibat sabetan senjata tajam Abu Lu’lu’. 


Begitulah kematian, jika waktunya datang, tidak bisa ditunda atau dimajukan sedikit pun. Tentang penyebab kematian –penyakit, kecelakaan, terbunuh dsb-itu hanya perantara. Yang jelas kematian tidak bisa ditolak dan tidak bisa diminta. (*)

Minggu, 01 Juni 2014

Apabila mau tahu kebaikan seseorang, tanyakanlah pada teman dekatnya.

Ingat tertangkapnya Presiden Iraq, Saddam Husein? Kuncinya ada pada orang paling dekat dengannya. Yaitu isteri kedua Saddam,  Sumira. Sang isteri membuka semua rahasia di mana Saddam berada kepada tentara AS dengan janji mendapat imbalan. Dari informasi itulah penguasa Iraq ditangkap di sebuah lubang kecil dekat kandang ternak di Tikrit, daerah kelahirannya.

Apa arti semua ini? Orang dekat adalah ‘tape hidup’. Ia merekam segala sesuatu. Jika disetel bisa mendatangkan kebaikan atau malapetaka. Saddam adalah contoh seseorang harus menerima sanksi hukum internasional akibat ulah orang paling dekat dengan dirinya.

Di sini letak kebenaran ucapan Umar Ibnul Khottob. “Jika engkau ingin mengetahui kekurangan seseorang, tanyakan pada musuhnya.” Di ‘saku’ musuh kekurangan seseorang tersimpan.  Sebaliknya, dari teman dekat ada kebaikan seseorang.

Banyak orang ternama di negeri ini mengawali karirnya dengan cara menjadi teman dekat tokoh besar. Sebut misalnya Bung Karno, menjadi ‘teman dekat’ HOS Cokroaminoto. Ia banyak membaca pikiran, kiprah, dan sepak terjang ‘gurunya’. Bung Karno pun jadi orang besar.
Hal serupa dilakukan Hamka. Ia menjadi ‘teman dekat’ Mas Mansur, ulama besar. Hamka akhirnya menjadi ulama disegani.  Teman dekat adalah rekaman kebaikan seseorang. Dari mereka diketahui kebaikan seseorang.


Sabtu, 17 Mei 2014


Yaitu, keluara yang tidak merasa cukup dengan rezeki yang ada. Rezeki yang di tangannya tidak disyukuri, dia melupakan semua yang ada. Pengelihatannya ke luar. Suka membanding-bandingkan dengan kondisi keluarga lain. Inilah keluarga yang selalu panas.

Yang dikerjalan setiap hari memburu harta, siang malam banting tulang. Sampai tak sempat shalat, membaca al quranu, dan lupa berbuat baik. Kekayaan sebanyak apapun kalau tidak disyukuri, tidak akan pernah merasa cukup.

Kiat: Berterima kasihlah kepada Allah atas apa saja yang kita miliki. Mulai rezeki di luar tubuh kit maupun rezeki yang ada di dalam tubu kita. Bisa dibayangkan, berapa harga nikmat Allah yang ada dlam tubuh ini. Mungkin nilainya trilunan rupiah kalau kita mau menghitungnya.

Sudah banyak rezeki yang Allah “gelontorkan” kepada kita. Sayangnya kita tutup mata terhadap semua itu. Kita merasa bahwa kita “kaya” setelah satu demi satu nikmat dalam fisik kita mulai dicabut oleh Allah Swt.

Senin, 12 Mei 2014




Kebaikan bisa menghapus dosa. Informasi ini akurat sebab datangnya langsung dari Allah. “Sesungguhnya kebaikan itu bisa menghapus dosa.

Meski demikian, hendaknya harus kita yakini bahwa setiap diri selalu menambah dosa: besar atau kecil. Adakalanya dosa dilakukan secara sirri (rahasia), ada juga yang berani melakukannya dengan jahar (terang-terangan). Malah ada orang yang bangga menceritakan perbuatan dosanya kepada orang lain.

Orang yang suka menceritakan perbuatan maksiatnya kepada orang lain tanda bahwa di hatinya ada “penyakit” , yaitu penyakit jiwa. Mungkin selama itu dia telah jauh dari Tuhan. Jiwanya kosong, gersang, dan gelap tidak ada nur ilahi.

Orang yang dekat Tuhan akan merasa malu menebar perbuatan maksiatnya kepada orang lain. Dia yakin tanpa diterangkan kepada orang lain, sudah ada yang mengetahui perbuatannya, yaitu Zat Yang Maha Tahu. “Innallaha khobirun bima ta’malun” (Sesungguhnya Allah mengetahui apa saja yang kamu kerjakan, Al-Hasyr: 18).

Di ayat lain Allah menyatakan, setiap perbuatan –kebaikan atau kejelekan—seberat biji atom akan mendapat balasan. Dengan demikian ia akan selalu hati-hati dalam berbuat sesuatu. Dosa menutup jiwa sehingga pandangannya menjadi gelap.

Pada sisi lain, kita juga yakin bahwa setiap diri ini tidak stiril dari perbuatan dosa. Ada saja perbuatan maksiat yang kita lakukan, sengaja atau tidak. Tetapi, sebagai orang iman kita tidak boleh pesimis dengan dosa yang kita lakukan tersebut. Sebab Allah masih membuka pintu ampunan kepada hambanya. Pintu ampunan Allah jauh lebih luas dari dosa yang dilakukan.



Dalam hadits qudsi Allah berfiman, “Andaikan ada hamba-Ku yang datang kepadaKu dengan membawa dosa sepenuh langit dan bumi lantas bertaubat kepadaKu dengan ikhlas, maka akan Aku ampuni dosanya.”

Pintu ampunan akan dosa ini yang menyebabkan kita menjadi optimis dalam hidup. Kita tidak akan terkena beban masa lalu yang gelap sebab Allah akan mengampuni dosa tersebut dengan syarat kita bertaubat, berjanji tidak akan mengulangi.

Dalam kenyataan, banyak tokoh yang semula hidup di alam penuh kegelapan lantas terangkat ke permukaan menuju jalan yang baik, dan menjadi teladan bagi masyarakat. Mereka benar-benar telah meninggalkan masa lalunya yang gelap.

Umar bin Khottob, semula dikenal sebagai musuh Islam nomor wahid. Bukan orang lain yang selalu menjadi sasaran amuk Umar, termasuk anak perempuannya sendiri jadi korban kebiadabannya sebelum memeluk Islam. Tetapi setelah ia memeluk islam, dia bertaubat kepada Allah sehingga pada akhirnya menjadi khalifah yang disegani. Sampai-sampai Nabi pernah mengatakan, “Seandainya setelah aku ada nabi, maka Umar orangnya.”

Konon, Umar selalu menangis dalam setiap shalatnya. Ia menyesali semua dosanya. Shalat dijadikan ajang mengadukan kekhilafan diri. Dan, berkat keseriusan Umar dalam bertaubat kepada Allah, maka akhirnya banyak keistimewaan baginya. Nabi Saw pernah mengatakan, “Saya di dunia bersama Abu Bakar dan Umar, dan di akhirat kelak juga akan bersama Abu Bakar dan Umar.”

Ucapan Umar bin Khottob juga banyak yang persis sama dengan redaksi firman Allah dalam al-Qur’an. Misalnya, ketika Umar kagum akan kesempurnaan ciptaan Allah, Umar berucap, “Rabbanaa makholakta hadza batilan.” Dan ternyata, kalimat ini persis dengan redaksi salah satu ayat suci al-Qur’an. Allah mengabadikan ucapan Umar dalam kitab suci-Nya.

Melihat kenyataan tadi, Umar seolah menjadi contoh bagi kita bahwa perbuatan dosa yang kita kerjakan diampuni Allah selama kita sungguh-sungguh meminta ampun, dan mengikutinya dengan perbuatan baik. Yakinkan, kebaikan akan bisa mengapus dosa. *
 

Unordered List

Sample Text

Diberdayakan oleh Blogger.

Lembaga Pelatihan "The Power Of Love"

Popular Posts

Recent Posts

Text Widget