Kamis, 18 Juni 2015




Orang-orang hebat terdahulu selalu berhati-hati dalam bergaul dengan orang lain. Mereka menjaga ucapan dan tindakannya agar tidak menyinggung perasaan orang lain apalagi menyakiti. Kalau karena khilaf sampai menyinggung atau menyakiti orang lain, mereka langsung meminta maaf kepada orang yang bersangkutan.
Para ahli sorga itu hidupnya selalu terjaga agar hatinya tidak terjangkit penyakit sombong. Sebab, seperti dikatakan Nabi, jika di hati seseorang ada kesombongan meski sebesar atom tidak bisa masuk sorga. Calon penghuni sorga selalu menjaga hatinya agar tidak terperosok ke dalam perbuatan yang dilarang agama.
Utsman bin Affan, suatu ketika jengkel kepada pembantunya. Utsman marah sampai menjewer telinga pembantunya. Setelah kejadian itu, dia menyesal bukan main sampai-sampai tidak bisa tidur. Esok harinya  Usman meminta pembantunya untuk membalasnya. Pembantunya jelas tidak mau, masak ada pembantu njewer khalifah. Namun Usman memaksanya sampai akhirnya pembantunya menuruti.
Tampaknya si pembantu malu, untuk menjewer Usman. Jeweran yang dilakukan sebatas memenuhi permintaan majikannya. Sehingga dilakukan dengan pelan. “Keraskan jeweranmu, karena balasan di dunia ini lebih ringan daripada di akhirat,” kata Utsman.
Itulah sikap pejabat di zaman khalifah. Tidak mungkin dijumpai saat ini. Sampai sekarang belum pernah kita dengar permintaan maaf dari pejabat yang bersalah kepada rakyatnya. Lihat penggusuran terjadi di mana-mana, namun pejabatnya tetap tenang-tenang saja. Malah suka adu argumentasi sebagai pembenaran atas perbuatannya.
Memang orang pintar itu bisa berkilah dengan berbagai dalih. Ketika sering dibutakan  sehingga manut disuruh apa saja oleh pejabat. Rakyat disuruh mengencangkan ikat pinggang padahal orang yang menyuruh (pejabat) tetap hidup dalam gelimang harta. Ironisnya kekayaan mereka hasil korupsi. Yang demikian ini berarti telah melakukan kebohongan publik.
Andai Utsman bin Affan masih ada,  mungkin kita diingatkan dengan peringatan keras. Apalagi mengambil hak rakyat (korupsi), salah berucap saja, Usman sampai merengek-rengek meminta maaf kepada pembantunya.

Nyalakan Lilin di Kegelapan
Hidup harus memberi manfaat. Nabi Saw menegaskan, “Sebaik-baik orang adalah, mereka yang memberi manfaat bagi orang lain.”
Manusia dapat belajar dari lilin. Dia menerangi orang lain, bukan merusak kehidupan. Lebih baik nyalakan lilin daripada mengutuk kegelapan. Artinya berbuatlah sesuatu agar memberi solusi tepat ketimbang menyalahkan keadaan. Jangan hidup seperti duri yang mencucuk diri dan menyakiti orang lain.
Sebuah kalimat bijak mengatakan, “Matinya orang baik ibarat padamnya lilin berwewangian. Ia menggantikan hilangnya cahaya dengan bau harum yang ia tinggalkan.” (Owen Fellthan). Artinya, kita harus selalu memberi kebaikan kepada lingkungan baik di masa hidup maupun setelah tiada karena jasa kita.
Biasanya orang yang demikian dirindukan orang lain. Ucapannya menjadi petuah bak penyuluh di tengah kegelapan. Berbeda dengan orang yang apriori pada orang lain. Dia tidak diperhitungkan. Bahkan kata Ali bin Abi Tholib, orang seperti ini ibarat mayat hidup. Dia hidup tapi seperti mati karena tidak punya peran apa-apa.
Kita jangan menjadi orang yang tidak punya pendirian, seperti dikatakan dalam peribahasa,” Kemana kelok lilin, ke sana kelok loyang.” Dia menurut saja apa kata orang. Kata orang Madura biasanya hanya,” Norok buntek” alias ikut-ikutan. Kemana angin bertiup ke sana dia berjalan.

Rabu, 20 Mei 2015



Seorang karyawan percetakan –di kota kecil—mengeluh. Pekerjaan di bagian design terus menumpuk. Padahal dia merasa maksimal bekerja di kantor, setiap hari bekerja mulai pukul 08 s/d pukul 16.00. Waktu kerja 9 jam tersebut terasa tidak cukup untuk menyelesaikan pekerjaan rutin.

Terkadang dia lembur, dan sebagian pekerjaan kantor digarap di rumah agar pekerjaan berkurang. Tetapi antara waktu yang tersedia dengan volume pekerjaan seolah tidak sebanding. Pekerjaan yang kemarin belum selesai, besoknya ketambahan lagi pekerjaan baru. Kapan pekerjaan akan selesai kalau setiap hari ditambah pekerjaan baru lagi,” keluhnya.

Bagi perusahaan sukses, volume pekerjaan tidak akan surut. Semakin terkenal tempat usaha, semakin banyak garapan. Jangan bermimpi pekerjaan berkurang. Justru akan semakin banyak dan tak kunjung habis. Memang itu yang dicari, banyaknya pekerjaan tambah pula rezekinya.

Bangsa Indonesia, memiliki jam kerja 9 jam. Beda dengan Negara maju jumlah jam kerjanya 10 atau 12 jam perhari. Manusia di Negara maju seperti robot. Waktu hanya untuk bekerja dan bekerja. Orang yang demikian ini bisa “renggang” hubungannya dengan Allah. Mereka mengisi waktu dengan urusan dunia. Anehnya, semakin banyak waktu dipakai, waktu semakin kurang.  Benar sinyalemen Nabi Muhammad SAW, “Kalau seseorang di dadanya penuh dengan urusan duniawi Allah akan menambahkan kesibukan yang lain sehingga lupa kepada-Allah”.

Allah menyediakan waktu siang dan malam masing-masing 12 jam. Itu sudah lebih dari cukup. Allah sudah “memperhitungkannya”. Waktu 24 jam merupakan “harga mati”. Artinya, tidak mungkin ditambah atau dikurangi lagi. Allah sudah merancang semua itu secara tepat.  

Bagi orang tertentu, waktu 24 jam ada yang memanfaatkan secara penuh, bekerja 9 jam sehingga malam harinya bisa istirahat. Untuk orang tertentu, jam kerja lebih dari 9 jam sehingga mengurangi waktu istirahat. Seorang presiden waktu bekerjanya lebih dari sepuluh jam. BJ Habibie semasa menjadi Presiden RI mengaku tidurnya hanya 3 jam per hari. Ia sering kali berhenti bekerja dan menuju tempat tidur setelah diingatkan oleh ajudan atau paspamres, waktu sudah larut malam. Habibie sosok manusia maniak kerja.

Sebenarnya, bukan soal 24 jam-nya yang menyebakan terasa kurang.  Melainkan cara memanfaatkannya. Ada orang yang tidak efektif menggunakan waktu, boros, tidak fokus  serta tidak terschedule. Akibatnya, waktu terasa kurang. Beda jika terbiasa tertib, tak perlu lembur. Semua bisa dibereskan dalam 9 jam kerja. Silahkan dicoba. (*)





Menuju Sa’adah...
Bahagia? Iya... bahagia!.

Sebuah kata yang cukup pendek, hanya tujuh huruf, namun sangat penting, bermakna, dan dibutuhkan. Bahagia (sa’adah, Bhs. Arab atau happy, Bhs Inggris) mudah diucapkan, namun tidak mudah diwujudkan. Bagi umat beragama bahagia –kalau bisa—tidak hanya di dunia, tetapi juga di akhirat.

Kebahagiaan selalu diidamkan semua orang. Mulai anak-anak sampai orang tua. Laki maupun perempuan, anak atau dewasa. Pemimpin maupun rakyat. Orang kota atau orang desa. Semuanya ingin bahagia.

Yang perlu dicatat, bahagia itu sudah Allah ciptakan ada sejak dulu, dan terus berlaku sampai sekarang, bahkan juga akan terus ada sampai kapan pun. Bahagia sering dibahas, tetapi bagi sebagian orang, terasa kian jauh, menganga dan jaraknya semakin lebar. Salah satu bukti adanya hal ini adalah jumlah orang prihatin, sedih, stres dan depresi di bumi mana pun terus bertambah, termasuk di negara maju termasuk di Indonesia terus bertambah. Jumlah orang stres di Indonesia naik terus. Itu berarti mereka tidak bahagia.

Kata bahagia begitu merakyat, familiar dalam ucapan dan tidak asing di telinga. Sekali lagi bahagia diinginkan semua orang. Sayangnya bahagia seperti fatamorgana. Tampak nyata dari kejauhan. Tetapi semakin didekati kian menghilang tanpa bekas. Ia seperti impian indah yang bertaburan di langit tapi sulit ditarik ke bumi.

Bahagia  bagi sebagian orang sering menjadi angan-angan yang sulit menjadi kenyataan. Meski demikian, bukan berarti tidak dapat digapai. Setiap orang pasti pernah merasakan bahagia sebagaimana mereka pernah merasakan sedih. Tugas kita, bagaimana memberi makna terhadap setiap rasa yang sedang berkecamuk dalam dada.

KHM Isa Anshari dalam bukunya Mujahid Da’wah menulis beberapa pegangan bagi kita. Yaitu, agama hanya akan dapat dirasakan oleh orang yang menegakkan dia dalam dirinya. Bahagia (sa’adah) hanya akan dirasakan oleh orang yang membela keyakinan, kebenaran dan keadilan. Kemenangan hakiki hanya diberikan kepada para  pejuang yang  rela berkorban, kuat menahankan penderitaan dan kepapaan, dst.

Seorang ibu datang kepada nabi Saw. Dia menanyakan bagaimana nasib tiga anaknya yang ikut berperang bersama nabi. Setelah mendengar dua anaknya meninggal, ibu tadi tampak bahagia. Dia bersyukur kepada Allah karena telah menjadikan dua anaknya menjadi hamba pilihan yang mati syahid. Penghargaan terhadap orang yang mati syahid tidak ada lain kecuali sorga. Pikiran ibu tadi  melebihi pikiran orang kebanyakan yang melihat bahagia hanya di dunia.

Pertanyaan kita, apa saja yang menyebabkan seseorang merasa bahagia? Insya Allah buku ini menjawab pertanyaan ini. Mudah-mudahan uraian ini dapat membuka cakrawala kita dan mempertajam dan memperluas pemahaman. Semoga. (*)


Senin, 19 Januari 2015


Tulisan dengan judul “Sehat atau Sakit Bersyukurlah” Ini  ditulis ketika sedang berada di RSUD Haryoto. Yaitu, ketika mendampingi ibu – sudah almarhumah-- yang berbaring lemah di rumah sakit. Waktu itu, tiga tahun silam, saya menghayati suasana batin. Selama ibu sakit terasa benar bahwa nikmat sehat itu begitu mahal dan berharga.

Mungkin bagi dokter, suasana rumah sakit itu biasa. Sebab setiap hari menjadi tugas rutinnya. Tetapi bagi kebanyakan orang, khususnya yang mengantar keluarganya berobat, merenungi sakit dan sehat itu sungguh menggores jiwa. Ada kenangan dan nilai tersendiri.

Ada pemandangan yang tidak lazim. Selama 24 jam rumah sakit terus “hidup”. Ada yang datang dengan luka parah, ada yang didorong di atas kursi roda, di dorong di atas ranjang, ada yang dikirim menuju ICU, ada yang tiba-tiba menangis, memecah keheningan malam karena saudaranya dipanggil yang Maha Kuasa, ada yang dinaikkan ke ambulance, ada yang ceria, senyum dan tertawa karena si pasien boleh pulang, dll.

Semua itu memperkaya batin. Ada lompatan pikiran yang tidak seperti biasanya ketika berada di rumah yang selalu datar-datar saja. Ada kesadaran spiritual di dalam jiwa bahwa nikmat sehat itu sungguh pemberian yang luar biasa dari Sang Pencipta. Sungguh tak tahu diri kalau tidak sadar apalagi tidak mensyukuri.

Rasul menegaskan, ada kalanya Allah menguji hamba-Nya dengan penyakit. Sebab terkadang, manusia menjadi lebih dekat dengan Allah jika tengah berbaring di atas ranjang karena sakit. Dia ingat kepada Allah dan selalu berdoa agar diberi sehat.

Jadi, sakit menjadi sarana penyadaran sehingga mengetahui bahwa sehat itu begitu penting dan mahal. Dengan sakit, muncul kesadaran untuk lebih dekat kepada Allah. 

Padahal ketika sehat susahnya mengajak ibadah bukan main. Selain sering lupa Allah terkadang berani melanggar ketentuan Allah. Maka, orang seperti itu lantas disentil oleh Allah dengan cara mendatangkan penyakit kepadanya agar “tahu diri”.

Sebaliknya ada juga orang yang apabila diberi sehat maka taqorrubnya (mendekatnya) kepada Allah semakin menjadi-jadi. Begitu diberi sakit, dia malah malas beribadah kepada Allah. Itu sebabnya, tipe orang seperti ini agar tidak menjauh dari Allah dia diberinya sehat.

Dengan kata lain, sehat dan sakit membawa hikmah. Tergantung kepandaian seseorang melihatnya. Orang yang ilmunya diwarnai iman, selalu mengaitkan sehat dan sakit dengan Allah. Maka, ketika dia sakit berupaya untuk tabah dan ketika mendapat nikmat dia berupaya bersyukur.

Malah bagi kalangan orang-orang alim, dan orang terpilih, menyikapi sakit dengan perasaan syukur. Saat sakit merasa sedang “disapa” Allah. Maka, tidak ada kata sesal sedikit pun. Bahkan untuk meminta kesembuhan juga ada rasa malu karena dibanding sehat dengan sakitnya dia merasakan lebih banyak sehatnya.

Sakit dianggap sebagai nikmat juga. Allah mengasihani. Dengan sakit, dia tidak akan lupa lagi kepada Allah. Coba dengar apa kata Nabi Ayub. Setelah sembilan tahun menderita sakit, istrinya mengatakan, “Anda kan Rasul Allah, apa tidak sebaiknya berdoa saja supaya diberi kesembuhan?”. Nabi Ayub menjawab bahwa dirinya malu kepada Allah karena antara sakit dengan sehat yang dirasakan lebih lama sehatnya.

Singkatnya, orang yang memiliki iman yang mendalam, sakit dirasakan sebagai kenikmatan ruhani. Ia merasakan sebagai kasih sayang Allah. Justru sebaliknya ada yang koreksi diri jangan-jangan sehat merupakan nikmat dan sehat yang dirasakan merupakan ujian terhadap kesungguhan iman kita. Bisa jadi orang yang selalu sehat malah lupa kepada Allah. Maka hati-hatilah? (*)


Minggu, 18 Januari 2015


Kita tak mungkin sampai di lantai paling atas jika tidak melalui lantai paling bawah. Begitu juga orang sukses, pasti diawali dari nol. Orang yang langsung bertengger di atas itu berbahaya karena belum terlatih merasakan bagaimana susahnya naik secara bertahab. 

Bagi seseorang, pengalaman “gagal” itu perlu. Jika tidak pernah gagal, atau jika selalu menang, sukses dan selalu berhasil,  bisa menyebabkan seseorang selalu mendongak, sombong. Anak orang besar yang selalu dilindungi menjadikan dia sering tidak terkontrol sikapnya.

Penulis pernah berkunjung ke salah satu prayuwana, anak-anak di sana sebagian besar anaknya pejabat atau orang yang punya kedudukan penting. Karena posisinya itu, dia tidak sempat memberi perhatian kepada anaknya sehingga mereka mencari “teman” di luar rumah dengan pilihan yang salah.

Sebaliknya, jika anak selalu gagal, maka hidupnya menjadi minder, tidak percaya diri, selalu takut salah. Kelak kalau menjadi menjadi orang, maka tidak mempunyai keberanian untuk  menentukan kebijakan, menanggung risiko, dan ada kecenderungan tidak bertanggungjawab. Bagi anak ggal dan sukses sama-sama perlu sebagai proses pembelajaran.

Gagal dan sukses itu bertepi. Seseorang tidak selamanya hidup dalam kegagalan atau selamanya sukses. Hidup berada di antara dua “mahkluk” gagal dan sukses. Mengapa begitu? Agar manusia terus bekerja keras, penuh hati-hati, dan selalu membutuhkan orang lain dalam hidup yang saling membutuhkan, ada ucapan terima kasih, bersyukur dan saling meminta maaf jika khilaf.

Gagal itu, disesuaikan dengan kemampuan, begitu juga sukses. Tidak mungkin Allah memberi kegagalan luar biasa sampai tak sanggup menanggungnya. Dan, begitu juga dengan sukses, tidak ada orang sukses secara berlebihan sehingga tak kuasa merasakannya. Si Bolang yang hidupnya sebagai buruh tani, susah menjadi perdana menteri. Sebab, kalau hal itu terjadi dia akan bersedih karena tak mampu menjalani.

Lihat saja istri Ibrahinovic, orang terkaya di Rusia. Sejak diperistri orang yang super kaya, perasaannya malah tidak enak. Ke mana-mana dijaga bodiguard berjumlah belasan orang. Hak pribadinya merasa “terampas”, ke mana-kemana diikuti. Ada perasaan tidak nyaman dengan perlakuan istimewa tersebut akhirnya jiwanya berontak. Tampaknya menjadi istri orang kaya tidak bertahan lama, setelah 23 tahun hidup berumah tangga, dia pun meminta cerai. Begitu juga dengan istri ke duanya, minta cerai setelah tiga tahun dinikahinya.

Ini menunjukkan kepada kita bahwa kisah sukses yang “terlalu hebat” menjadikan seseorang tidak nyaman juga. Kalau tokh ada anak petani yang lantas “ditakdirkan” menjadi presiden itu bukan terjadi tiba-tiba, melainkan karena proses panjang, hasil perjuangan dan kerja keras, dan mungkin karena momentum yang berpihak kepada dirinya. Itulah yang dialami pak Harto anak petani. Tapi kan masuk TNI dulu, baru menjadi presiden alias melalui proses.

Yang sering kita lihat adalah, banyak orang sukses kemudian jatuh melata dalam kubangan kehancuran. Lihat Muammar Kadhafi. Setelah 30 tahun menjadi Perdana Menteri Libya, dia akhirnya terkapar di tangan rakyatnya sendiri. Dia dibunuh oleh orang yang dipimpinnya. Bukan hanya itu, jenazahnya tidak segera dimakamkan, di letakkan di lantai agar semua rakyatnya bisa melihat dan berfoto bersama, foto kenangan, dan kenangan atas kejatuhan rezim Kadhafi. Seorang pemimpin yang dianggap tidak mau mendengar suara rakyatnya.

Lihat bagaimana Saddam Husein. Presiden Iraq yang disegani rakyatnya akhirnya jatuh dalam keadaan hina. Dia bersembunyi dalam sebuah lubang yang diberi cerobong untuk bernafas. Dia ditangkap dalam pelariannya yang sepi pengawal. Setelah itu Saddam harus menerima kenyataan pahit, yaitu meninggal di atas gantungan oleh tentara Amerika yang memperlakukan mantan presiden secara tidak manusiawi. Presiden jatuh hina. Dua contoh tersebut adalah pengecualian dari kejadian ekstrem yang dialami anak manusia. Sementara yang lain, orang sukses yang jatuh itu sering kita lihat masih dalam batas “wajar-wajar” saja.

Maka yang perlu kita ingat kalau kita sedang gagal, yakinlah di depan mata sudah tergambar kisah sukses yang akan datang dalam hitungan hari. Sebaliknya, kalau kita sedang sukses, percayalah kesuksesan itu tidak ada yang abadi. Di belakang “rumah” kehidupannya tengah mengintip kegagalan yang akan menggerogoti. Sukses dan sukses yang dimaksud adalah dalam banyak hal, mungkin dalam hal harta, kesehatan, kedudukan, status sosial, dll. 

Ada baiknya kita baca kembali nasehat Ibrahim bin Adham kepada pemuda yang tengah merasa gagal menjaga ibadahnya sehingga dia khilaf melakukan perbuatan dosa. “Apa nasehat Tuan kepada saya agar tidak berbuat dosa lagi?,” tanya pemuda tersebut.

Ibrahim bin Adham menyebutkan ada lima hal yang  kalian lakukan. Apa itu Tuan?, tanyanya. Pertama, kalau engkau akan melakukan maksiat lagi, berjanjilah selamanya tidak akan makan rezeki dari Allah. Si pemuda bingung, lanstas makan dari mana? Lantas apa lagi Tuan?, pintanya. Kedua, kalau engkau akan melakukan maksiat, berjanjilah engkau tidak akan tinggal di buminya Allah. Lho kok tambah sulit, ujar pemuda.

Oh iya, lantas apa lagi Tuan?, ujarnya lagi. Ketiga, kalau engkau akan berbuat maksiat, katakan pada dirimu, saya akan lakukan perbuatan maksiat di tempat yang tidak ada yang mengetahuinya. “Ini juga tidak bisa, sebab Allah Maha Melihat, “ sergahnya. Yang ke empat apa Tuan?. Begitu kalau engkau akan melakukan maksiat, teruskan saja, tapi kalau engkau bisa meminta waktu kepada malaikat Izrail yang akan mencabut nyawamu  agar ditunda untuk memberi kesempatan bertaubat kepada Allah. Apa ya bisa?, bisik pemuda


Katanya ada lima hal, lantas yang ke enam apa Tuan? Yang terakhir ini, kalau engkau akan melakukan perbuatan maksiat, jika kelak malaikat Zabaniah akan melemparmu ke neraka, tolaklah. Masya Allah ke lima-limanya tidak bisa saya lakukan Tuan. Nah, kalau begitu jangan lagi ada keinginan dalam hati untuk melakukan perbuatan dosa, saran Ibrahim bin Adham yang disambut anggukan kepala si pemuda tadi.  

Minggu, 21 Desember 2014

Hargai para pesaing Anda, sebab merekalah pemicu semangat Anda untuk berubah
Jika ingin tahu rahasia diri Anda, dengar kata pesaing Anda. Mereka mengetahui kekurangan Anda.

Coba saja gunakan ‘jasa’ pihak ketiga menanyakan pendapat pesaing tadi agar bicara apa adanya. Dengan demikian, Anda mendapat data lengkap tentang kelemahan, kekurangan, dan kelengahan. Anda dapat mengetahui titik mana dari diri Anda yang paling lemah untuk diperbaiki.

Kalau perlu dengar apa saja yang dia katakan, resapi, dan koreksi diri. Dengan begitu ada kontrol kuat pada diri Anda. Jika pesaing sibuk mencari kekurangan Anda, jangan direspon secara negatif. Sibuklah memperbaiki diri dari setiap kekurangan. Nabi Saw mengingatkan agar kita mau belajar dari sipapun, termasuk dari syetan.

Bisa jadi, ilmu yang dia sampaikan bermanfaat. Orang bijak, selalu menganggap pesaing sebagai mitra yang baik. Tanpa disuruh mereka mendorong semangat, memberi motivasi gratis. Tetapi, banyak orang tidak bisa berbuat demikian. Pesaing dianggap lawan yang ingin menjatuhkan.

Sehingga tiap ada ‘koreksi’ berupaya membela diri. Dalam sebuah perusahaan, pesaing itu malah diciptakan agar ‘berperang’ di pasar. Dengan cara itu, diketahui mana produk yang lebih disukai publik dan layak dikembangkan. Begitu juga dalam kehidupan, pesaing hendaknya kita jadikan sebagai pendorong semangat untuk maju.

Senin, 15 Desember 2014




Dunia merindukan lahirnya inspirator kehidupan. Yaitu orang yang mampu menggugah jiwa yang tengah tidur lelap agar bangkit bergerak dan berkarya. Ucapannya mendorong orang yang lemah menjadi bergairah dan semangat melangkah maju. Nabi Muhammad Saw adalah isnpirator bagi kehidupan.

Inspirator mampu mengubah dan memoles hidup menjadi penuh makna dan kaya warna. Nabi Saw mampu membangkitkan kaum yang lemah menjadi kuat. Umat Islam meski minoritas menjadi berani melawan tirani dzalim. Oleh Nabi dunia yang gelap dibalik menjadi terang dan beradab. Dunia mengakui jasa dan peran Nabi Muhammad Saw yang tiada tandingannya dalam membangun peradaban.

Kita berupaya menjadi pribadi hebat. Yaitu pribadi yang selalu menjadi sumber inspirasi dan memberi manfaat terhadap orang lain. Orang hebat adalah orang yang selau bicara kebenaran dan berani mempertahankannya. Orang hebat adalah orang yang selalu mensyukuri nikmat Allah dalam hidupnya.

Orang hebat adalah orang yang usianya lebih lama ketimbang umurnya karena kebaikan yang ditanam di tengah kehidupan selalu menjadi contoh bagi orang lain. Dia selalu disebut namanya sepanjang masa karena jasanya yang tak pernah mati di tengah kehidupan. Dan, orang hebat selalu berpikir apa yang dapat diberikan kepada  orang lain bukan berpikir apa yang ingin diterima dari orang lain.

Nabi Muhammad mampu mendorong kita menjadi orang yang bersemangat dalam memperbaiki diri dan kehidupan. Nabi menyatakan, “Allah tidak melihat wajahmu, yang Allah lihat adalah hati dan perbuatanmu”. 

Karenanya kata kunci kehebatan seseorang ada pada hati dan perbuatannya, bukan pada ketampanan atau kecantikannya. Banyak orang dikaruniai wajah tampan atau cantik namun jiwanya ringkih sehingga mudah mengeluh. Orang seperti ini bukan termasuk orang hebat. Sehat fisik seharusnya juga disertai sehat ruhani.

Di sekitar kita banyak  orang hebat. Yaitu orang yang mampu keluar dari persoalan dirinya. Berpikirnya jauh melebihi zamannya. Lihat Bung Karno, berpikirnya out the box. Orang sezamannya menganggap pikirannya aneh, tetapi setelah dia tiada, barulah orang lain membenarkan apa yang dipikirkannya. Itulah orang hebat yang mampu menjadi inspirasi.

Ada kalanya orang hebat itu memiliki “keterbatasan fisik”. Mungkin fisiknya invalid. Namun hidupnya tangguh, semangatnya tinggi, berpikirnya jernihKarenanya, meski dia dikaruniai fisik invalid tetapi prestasinya luar biasa.

Berapa banyak orang tuna netra yang mampu menghafal al Quran, sedang yang melek tidak kuasa menghafal wahyu Allah itu. Ada hamba Tuhan yang tidak mempunyai dua tangan namun produktif menulis buku dengan kakinya. Benar kata orang bijak yang sering kita dengar yang menyatakan, “Kalau engkau jatuh 100 kali, bangkitkan 101 kali.”

Di sinilah letak keadilan Allah. Di balik kekurangan fisik hamba Allah melengkapinya dengan  kelebihan sehingga  menutup kekurangan fisiknya. Dipoles kekurangan fisik dengan kelebihan bukan dengan keluh kesah, apalagi dengan ratapan berkepanjangan. Mereka tegar dan berupaya mengubah kelemahan diri menjadi potensi besar yang pada akhirnya mampu “menakhlukkan” dunia.

*) Naskah karya penulis ini dimuat di Majalah Sakinah Januari 2015. Direktur Lembaga Training The Power Of Love
  

Unordered List

Sample Text

Diberdayakan oleh Blogger.

Lembaga Pelatihan "The Power Of Love"

Popular Posts

Recent Posts

Text Widget