Kita boleh setuju dan juga boleh menolak
terhadap pendapat yang menyatakan bahwa antara bahagia dan sedih ibarat
pergantian siang dan malam, terang dan gelap. Keduanya mempunyai porsi yang
sama, sehingga tak perlu dihindari. Jarak keduanya teramat tipis...
Agama mengajarkan, kalau bahagia datang
hendaknya bersyukur kepada Allah Swt. Tanpa pertolongan (ma’unah) Allah, mustahil bahagia menghampiri. Sebaliknya, ketika
kesedihan datang, kita berupaya menerima sepenuh hati sebab hidup ini tidak
sempurna jika tanpa keduanya: bahagia dan sedih.
Bahagia dan sedih itu ada batasnya. Ke duanya
sama-sama bergaris tepi. Ketika kita bahagia tidak perlu mendongak penuh
ketakaburan. Jangan lebay. Biasa-biasa saja. Ingat—bisa jadi-- dalam waktu
sekejap kebahagiaan itu bisa lenyap dan berubah menjadi kesedihan.
Sebaliknya, ketika rasa sedih yang
menghampiri, tidak perlu bersedih berlebihan. Yakinlah kesedihan tidak akan
abadi. Kesedihan juga bisa lenyap dan berganti menjadi bahagia. Pahami dan
sadari bahwa orang lain ada yang mengalami kesediahan jauh lebih dahsyat
ketimbang diri Anda juga banyak.
Jika Anda bersedih karena tidak mampu membeli
sepatu, ingatlah ada orang lain di sana yang tetap sabar walau tidak punya
kaki. Kalau Anda sedih karena tidak mampu membeli kacamata mahal ingatlah di
sana banyak orang tuna netra yang bertahun-tahun tidak bisa melihat keindahan
alam raya ini.
Maka, Nabi Saw mengingatkan Abu Bakar ketika
dikejar oleh orang kafir dan hampir masuk goa. Abu Bakar meneteskan air mata,
khawatir orang kafir itu mengetahui posisi rasul bersama dirinya. Tapi nabi
mengatakan dengan tegas, “Tak perlu khawatir, sesungguhnya Allah bersama kita. ”Laa tahzan innallaha ma’na,” begitu nabi mengingatkan Abu bakar.
Ada pendapat menarik yang mengatakan bahagia dan sedih merupakan cinta Ilahi yang dikirim kepada manusia dalam bentuk yang berbeda rupa. Kita membutuhkan keduanya!. Orang yang hanya ingin bahagia saja berarti tidak siap menghadapi realitas hidup yang di dalamnya sudah disediakan rasa sedih. Dan rasa sedih itu diciptakan Allah Swt dan dikirim kepada kita agar kita merasakan bagaimana enaknya bahagia.
Dalam kalimat hikmah dikatakan,
“Bahagia dan derita ibarat dua sisi dari koin yang sama. Dalam hidup akan
selalu menemukan keduanya saling berdampingan. Hal ini harusnya membuat kita
sadar dan lebih mawas diri. Bahwa di setiap kesedihan yang kita alami pasti
akan menemukan kebahagiaan. Kita jangan terlena dengan kebahagiaan yang kita
dapat, kita harus siap menghadapi kesedihan yang bakal muncul.”
Kalau kita telusuri dalam berbagai referensi, kita akan banyak menjumpai kumpulan kalimat hikmah terkait dengan bahagia dan sedih. “Bahagia adalah milik mereka yang mempunyai impian, dan mempunyai keberanian untuk berusaha mewujudkannya menjadi kenyataan.”
Juga ada kalimat yang terasa indah. Jika kita mencintai kebaikan, kita tidak ingin meninggalkan yang baik, dan akan menemukan kebahagiaan ketika bersama yang baik. “Hidup bukan hanya menemukan hal yang bisa membuat kita bahagia, tapi juga menemukan hal yang membuat kita bersedih, kalau bisa jauhi....
“Tak peduli berapa kali kamu disakiti (cinta) tapi percayalah, ada seseorang di luar sana yang akan menyembuhkanmu dan membuatmu bahagia.” Kita setuju pada pendapat yang mengatakan bahwa rencana Tuhan seperti film. Semua cerita baik dan buruk dirancang dengan baik untuk sebuah akhir yang bahagia.
Jatuh cinta tak berarti akan selalu bahagia, karena selalu ada luka. Namun, di lain kesempatan akan ada jalan untuk tetap bersama. Langkah awal untuk bahagia adalah, berhenti membandingkan dirimu dengan orang lain dan belajar mengucapkan rasa syukur. Bagitu kalimat yang ditulis oleh Kanadi.
Siapa yang bisa merasakan bahagia?. Orang yang tahu cara bersyukur dan orang yang bisa menikmati keindahan dunia dan arti kebahagiaan hidup. Dengan bersyukur, kebahagiaan akan bertambah. Hal ini diperkuat dengan firman Allah dalam beberapa ayat Al-Quran antara lain dalam QS lbrahim (14): 7: Jika kamu bersyukur pasti akan Kutambah (nikmat-Ku) untukmu, dan bila kamu kufur, maka sesungguhnya siksa-Ku amat pedih.
Kalau kita telusuri dalam berbagai referensi, kita akan banyak menjumpai kumpulan kalimat hikmah terkait dengan bahagia dan sedih. “Bahagia adalah milik mereka yang mempunyai impian, dan mempunyai keberanian untuk berusaha mewujudkannya menjadi kenyataan.”
Juga ada kalimat yang terasa indah. Jika kita mencintai kebaikan, kita tidak ingin meninggalkan yang baik, dan akan menemukan kebahagiaan ketika bersama yang baik. “Hidup bukan hanya menemukan hal yang bisa membuat kita bahagia, tapi juga menemukan hal yang membuat kita bersedih, kalau bisa jauhi....
“Tak peduli berapa kali kamu disakiti (cinta) tapi percayalah, ada seseorang di luar sana yang akan menyembuhkanmu dan membuatmu bahagia.” Kita setuju pada pendapat yang mengatakan bahwa rencana Tuhan seperti film. Semua cerita baik dan buruk dirancang dengan baik untuk sebuah akhir yang bahagia.
Jatuh cinta tak berarti akan selalu bahagia, karena selalu ada luka. Namun, di lain kesempatan akan ada jalan untuk tetap bersama. Langkah awal untuk bahagia adalah, berhenti membandingkan dirimu dengan orang lain dan belajar mengucapkan rasa syukur. Bagitu kalimat yang ditulis oleh Kanadi.
Siapa yang bisa merasakan bahagia?. Orang yang tahu cara bersyukur dan orang yang bisa menikmati keindahan dunia dan arti kebahagiaan hidup. Dengan bersyukur, kebahagiaan akan bertambah. Hal ini diperkuat dengan firman Allah dalam beberapa ayat Al-Quran antara lain dalam QS lbrahim (14): 7: Jika kamu bersyukur pasti akan Kutambah (nikmat-Ku) untukmu, dan bila kamu kufur, maka sesungguhnya siksa-Ku amat pedih.
Bahagia akan hadir di hati
seseorang kalau mereka pandai berterima kasih (bersyukur) kepada Tuhan atas
nikmat yang ditebar dalam kehidupan. Hanya orang yang kufur nikmat yang tidak
mampu melihat begitu banyak nikmat yang Allah “gelontorkan” kepada kita. (*)


0 komentar:
Posting Komentar