Normalnya, bekerja dilakukan siang hari. Tetapi, tidak
demikian bagi sebagian orang. Terutama jika bekerja menggunakan system shif. Jika
kena giliran kerja malam hari, dia harus beranjak dari tidurnya untuk menunaikan
tugas disaat orang lain tidur nyenyak. Terhadap orang yang bekerja malam hari, secara
kelakar ada yang meledek seperti meniru kehidupan kelelawar. Keluar dari rumah
malam hari, tidur dan istirahat siang hari.
Yang ideal, penggunaan waktu sesuai “seruan” dari Sang
Pencipta waktu. Yaitu, siang untuk bekerja, malam untuk istirahat. Allah SWT
berjanji akan mengangkat derajat orang yang menjaga waktu malam untuk shalat lail
ke posisi yang mulia.
Nabi SAW memberi contoh kepada kita. Beliau sangat disiplin
mengisi waktu. Misalnya, saat larut malam, Nabi mulai berjuang keras untuk
bangun dan mengisinya. Nabi punya 7 kebiasaan harian yang layak kita tiru. Yaitu
sebagai berikut:
Pertama, Nabi SAW mengisi waktu malamnya dengan shalat lail (tahajut). Ini merupakan kebiasaan yang dijaga dengan
sungguh-sungguh. Dalam banyak penjelasan disebutkan bahwa Nabi kalau berdiri
shalat lail begitu lama sehingga kakinya bengkak saking lamanya berdiri.
Kedua, beliau melakukan tadabbur
Quran (merenungi) isi Al Quran. Dengan demikian, Al Quran bukan sekedar
dibaca tetapi juga direnungkan kandungannya. Suatu ketika Bilal bin Rabbah usai
kumandang adzan Subuh, tetapi Nabi tidak kunjung datang. Bilal segera ngetok
pintu rumah Nabi. Ternyata diketahui Nabi dalam keadaan menangis. “Ada apa ya
Rasulullah engkau menangis?” Nabi menjawab, Jibril baru saja menyampaikan wahyu,
“Sesungguhnya terciptanya langit dan
bumi, terjadinya siang dan malam merupakan bukti bagi orang berakal.” Ali
Imron ayat 190. Ayat itu direnunginya secara mendalam sehingga air mata nabi
menetes.
Ketiga, nabi melaksanakan shalat Subuh berjamaah di masjid.
Beliau mengatakan bahwa orang yang istiqomah shalat Subuh berjamaah 40 hari
berturut-turut, maka diselamatkan dari penyakit nifaq. Dengan menjalankan salat
Subuh, hati seseorang akan damai sehingga detik demi detik, menit ke menit dan
jam-jam berikutnya akan dilalui dengan pesan shalat tersebut.
Keempat, setelah matahari agak tinggi, Nabi melaksanakan
shalat Dhuha. Yaitu, shalat yang ditekankan oleh Nabi untuk “mengetuk” pintu
langit agar mendapat kelancaran rezeki. Dalam hadits Qudsi Allah berjanji,
orang yang melakukan shalat Dhuha empat rakaat, rezeki sehari itu akan
dicukupi.
Kelima, beliau bertanya, hari ini akan berbuat baik apa
kepada orang lain. Ini kebiasaan yang perlu dikembangkan dalam kehidupan kita
agar eksistensi kita memberi manfaat bagi orang lain. Kata Nabi, “Khoirun nas anfa’uhum linnas” Sebaik-baik
manusia adalah mereka yang memberi manfaat bagi orang lain.”
Keenam, Nabi menjaga wudhunya. Atau kita perlu menjaga pesan
wudhu, yaitu menjaga kesucian lisan, penciuman, pendengaran, tangan dan kaki.
Ketujuh, Nabi menjaga dzikirnya kepada Allah SWT. Hati dan pikirannya selalu
terjalin erat dengan Allah. Orang yang demikian, maka setiap langkahnya selalu
merasa dalam pantauan Allah.
Begitulah Nabi dalam mengisi waktu. Sangat tertib.
Dalam hadits Qudsi, Allah berfiman, “Hai anak Adam gunakan waktu untuk
beribadah kepadaKu, Aku penuhi dadamu kekayaan dan menutupi kemiskinan. Dan
bila engkau tidak berbuat –beribadah—Aku penuhi dadamu dengan kerepotan dan
tidak Aku tutupi kemiskinanmu (Diriwayatkan Attirmidzi)
Begitulah pentingnya mengisi waktu dengan ibadah. Dengan
demikian, waktu yang Allah berikan kepada kita tidak ada yang mubadzir. Seluruh
waktu diisi dengan kebaikan, secara vertikal maupun yang bersifat horizontal.
(*)



0 komentar:
Posting Komentar