Selasa, 23 Juni 2015







Normalnya, bekerja dilakukan siang hari. Tetapi, tidak demikian bagi sebagian orang. Terutama jika bekerja menggunakan system shif. Jika kena giliran kerja malam hari, dia harus beranjak dari tidurnya untuk menunaikan tugas disaat orang lain tidur nyenyak. Terhadap orang yang bekerja malam hari, secara kelakar ada yang meledek seperti meniru kehidupan kelelawar. Keluar dari rumah malam hari, tidur dan istirahat siang hari.

Yang ideal, penggunaan waktu sesuai “seruan” dari Sang Pencipta waktu. Yaitu, siang untuk bekerja, malam untuk istirahat. Allah SWT berjanji akan mengangkat derajat orang yang menjaga waktu malam untuk shalat lail ke posisi yang mulia.

Nabi SAW memberi contoh kepada kita. Beliau sangat disiplin mengisi waktu. Misalnya, saat larut malam, Nabi mulai berjuang keras untuk bangun dan mengisinya. Nabi punya 7 kebiasaan harian yang layak kita tiru. Yaitu sebagai berikut:

Pertama, Nabi SAW mengisi waktu malamnya  dengan shalat lail (tahajut). Ini merupakan kebiasaan yang dijaga dengan sungguh-sungguh. Dalam banyak penjelasan disebutkan bahwa Nabi kalau berdiri shalat lail begitu lama sehingga kakinya bengkak saking lamanya berdiri.

Kedua, beliau melakukan tadabbur Quran (merenungi) isi Al Quran. Dengan demikian, Al Quran bukan sekedar dibaca tetapi juga direnungkan kandungannya. Suatu ketika Bilal bin Rabbah usai kumandang adzan Subuh, tetapi Nabi tidak kunjung datang. Bilal segera ngetok pintu rumah Nabi. Ternyata diketahui Nabi dalam keadaan menangis. “Ada apa ya Rasulullah engkau menangis?” Nabi menjawab, Jibril baru saja menyampaikan wahyu, “Sesungguhnya terciptanya langit dan bumi, terjadinya siang dan malam merupakan bukti bagi orang berakal.” Ali Imron ayat 190. Ayat itu direnunginya secara mendalam sehingga air mata nabi menetes.

Ketiga, nabi melaksanakan shalat Subuh berjamaah di masjid. Beliau mengatakan bahwa orang yang istiqomah shalat Subuh berjamaah 40 hari berturut-turut, maka diselamatkan dari penyakit nifaq. Dengan menjalankan salat Subuh, hati seseorang akan damai sehingga detik demi detik, menit ke menit dan jam-jam berikutnya akan dilalui dengan pesan shalat tersebut.

Keempat, setelah matahari agak tinggi, Nabi melaksanakan shalat Dhuha. Yaitu, shalat yang ditekankan oleh Nabi untuk “mengetuk” pintu langit agar mendapat kelancaran rezeki. Dalam hadits Qudsi Allah berjanji, orang yang melakukan shalat Dhuha empat rakaat, rezeki sehari itu akan dicukupi.

Kelima, beliau bertanya, hari ini akan berbuat baik apa kepada orang lain. Ini kebiasaan yang perlu dikembangkan dalam kehidupan kita agar eksistensi kita memberi manfaat bagi orang lain. Kata Nabi, “Khoirun nas anfa’uhum linnas” Sebaik-baik manusia adalah mereka yang memberi manfaat bagi orang lain.”

Keenam, Nabi menjaga wudhunya. Atau kita perlu menjaga pesan wudhu, yaitu menjaga kesucian lisan, penciuman, pendengaran, tangan dan kaki. Ketujuh, Nabi menjaga dzikirnya kepada Allah SWT. Hati dan pikirannya selalu terjalin erat dengan Allah. Orang yang demikian, maka setiap langkahnya selalu merasa dalam pantauan Allah.

Begitulah Nabi dalam mengisi waktu. Sangat tertib. Dalam hadits Qudsi, Allah berfiman, “Hai anak Adam gunakan waktu untuk beribadah kepadaKu, Aku penuhi dadamu kekayaan dan menutupi kemiskinan. Dan bila engkau tidak berbuat –beribadah—Aku penuhi dadamu dengan kerepotan dan tidak Aku tutupi kemiskinanmu (Diriwayatkan Attirmidzi)

Begitulah pentingnya mengisi waktu dengan ibadah. Dengan demikian, waktu yang Allah berikan kepada kita tidak ada yang mubadzir. Seluruh waktu diisi dengan kebaikan, secara vertikal maupun yang bersifat horizontal. (*)


0 komentar:

Posting Komentar

Unordered List

Sample Text

Diberdayakan oleh Blogger.

Lembaga Pelatihan "The Power Of Love"

Popular Posts

Recent Posts

Text Widget